Perlukah Museum Monumental “Virtual” Gempa?
October 22, 2009 at 9:49 pm | In Tarian Jemari | Leave a CommentTags: Monumen Virtual, Museum Gempa, Museum Virtual
Perlukah Museum Monumental “Virtual” Gempa?
Kemarin, Mas Anif Punto, alumni GeoUGM yang menjadi wartawan Republika, memposting tulisan Bu Dwikorita mengenai Perlunya Museum Monumental Gempa. Tulisan Bu Dwi Korita itu di muat http://www.republika.co.id/koran/42/83730/Perlunya_Museum_Monumental_Gempa
Dalam tulisan tersebut, beliau antara lain menuliskan keprihatian sebagai berikut:” Belum adanya museum monumental ini cukup memprihatinkan, bahkan mengkhawatirkan bagi kepentingan pembelajaran masyarakat untuk siap bencana. Dalam kurun waktu puluhan tahun, masyarakat kita cenderung mudah melupakan kejadian gempa dan dampaknya. Bahkan anak cucu kita mungkin sama sekali tidak bisa lagi membayangkan kejadian gempa bumi tersebut dan dampaknya.”
Mas Agus Hendratno, staff pengajar di jurusan teknik geologi UGM, yang juga concern dengan masalah bencana alam, mengamini ide Bu Dwikorita, berikut ini tanggapan dari Mas Agus Hendratno, :” Ide yang sangat baik. Untuk Museum Monumental Tsunami sudah dibangun di Aceh, dengan cagar hasil lemparan gelombang tsunami yaitu : kapal PTLD. Untuk gempa Bantul – Klaten 2006 kemarin hanya berupa “tugu peringatan gempa” yang disebut sebagai “Tugu Monumen Lindu Gede” di Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, Klaten. Hanya Tugu Monumen Lindu Gede tsb belum mencukupi sebagaimana “museum monumental gempa” yang dibayangkan bu rita. Yang digagas bu rita tsb pernah muncul di ranah beberapa LSM Pengurangan Resiko Bencana di Gantiwarno, Klaten yang akan mencagar rumah penduduk yang roboh, tapi tidak cukup kuat karena tarik ulur ganti rugi rumah yang akan dicagar tsb. Akhirnya cukup dibangunkan Tugu Lindu Gede di Sengon, Prambanan, Klaten.”
Saya, kemudian ikut nimbrung dengan ide yang sederhana, untuk menanggapi tulisan Mas Agus Hendratno tersebut, Quote:”Mas Gus Hen, bagaimana kalau monumen virtual? ke depannya kan bakal banyak masyarakat yang mengakses informasi online…”.
Meskipun ide saya sederhana, ternyata ada dua tanggapan yang relevan, yang pertama ada tanggapan langsung dari Mas Agus Hendratno. Berikut petikan email beliau,: ” Kang Tomo, itu juga bagian dari monumen, saya sangat setuju. Hanya permasalahannya masyarakat korban bencana-bencana merusak saat ini jauh dari jangkauan IT. Sehingga metode pembelajaran publik harus dibedakan, karena masih ada yang belum melek IT atau “melek virtual”. Tapi bagi pengambil keputusan dimana saja, monumen virtual tentang bencana geologi yang merusak selama ini, adalah sangat penting dan strategis, itu juga bagian dari penetrasi Earth System Governance dalam sistem birokrasi ke depan. Minggu depan materi Earth System Governance akan kami ajarkan kepada seluruh birokrasi se Jawa Timur di Pasuruan (ada pejabat Pemprov Jatim memberi kesempatan saya untuk mendiskusikan hal tersebut..) Mohon maaf sedikit saya buka…, karena ini bagian dari edukasi publik atau “kampanye birokrasi sadar earth system dalam keputusan politiknya” ke depan. Paling tidak memulai dari yang paling sederhana dulu…(orang lain bisa jadi ini adalah “ecek-ecek”..ndak apa-apa..ikhlas saja.).., hasilnya Wallahu ‘alam bissowab…”
Dari tulisan di atas, Mas Agus kayaknya setuju dengan ide monumen virtual, bahkan menurutnya sangat penting dan strategis bagi para pengambil kebijakan.
Sedangkan satu tanggapan yang lain, cukup membuat surprise karena datang dari Mas Rovicky, yang menurut saya sudah membuat monumen virtual dari beberapa bencana alam yang menimpa Indonesia beberapa waktu terakhir. Blog beliau, Dongeng Geologi adalah salah satu monumen virtual yang merekam dan menganalisa gempa Jogja, juga gempa Aceh, lumpur sidoarjo dan gempa-gempa yang lain. Blog beliau bisa mengedukasi masyarakat pengguna internet selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu dan 365 hari pertahun
.
Berikut petikan email Mas Rovicky : “Sakbenere idenya Komo ini suangat brilliant !
Kita seringkali ngga ngerti apa maksud si monumen itu dibuat. Tugu di Jogja sakjane dibuat sebagai peringatan kebencanaan. Namun karena kita tidak mampu “membaca” maka kitapun lupa akan pesan dari si monumen itu. Pesan itu dibuat dengan bahasa wektu itu saja.
Mas Komo sudah memiliki ilmu “ngerti sakdurunge winarah” atau ilmu masa depan. Gempa merupakan bencana yang “langka” terjadi di Jawa ini. Kalau melihat jeda antar satu gempa dengan gempa yang lain 30-50 tahun. Dimana cara “membaca” peninggalannya juga sudah susah dimengerti. Sehingga mengakibatkan benca itu terulang karena merasa tidak memiliki pesan. Monumen sudah dianggap sebagai bahan kajian arkeologi saja. Bukan sebagai peringatan tanda waspada.
Salute Mas Komo … anda berpikir buat cucu cicit yang mungkin 40-50 tahun lagi membaca “tetenger” monumenmu di belantara maya (virtual). Yang saya kira akan menjadi monumen yang lebih mudah dibaca di masa depan ketimbang bangunan gedung roboh yang susah “dibaca”.
Saya merasa tersanjung sekaligus tertampar dipuji oleh Mas Rovicky, karena saya hanya melontarkan ide mengenai monumen virtual dan Mas Rovicky sendiri sudah memulainya beberapa tahun yang lalu. Ide saya mengenai monumen virtual itu pun salah satunya karena melihat betapa efektinya blog Mas Rovicky dalam mengedukasi masyarakat kita mengenai bencana geologi. Blog tersebut menjadi rujukan bukan hanya oleh pribadi-pribadi yang peduli dengan bencana alam, namun juga menjadi rujukan beberapa media masa. IAGI, bahkan pernah memberikan penghargaan kepada beliau saat munas di Pekanbaru.
Tadi sore, saya juga sempat chating sebentar dengan Mas Rovicky, berikut petikan diskusi kami
Rovicky: ide brilliant dengan virtual monument mu !
me : matur nuwun Mas… kayake monumen virtual lebih abadi.. dan sudah dirintis dengan blognya Mas Rovicky yang dongeng geologi itu
Rovicky: paling tidak bukan hanya kajian sejarah saja. hahahah kau tau juga kah ?
me : tahu apa Mas? ketika kita menulis apa yang terjadi saat ini, mungkin itu bagian dari sejarah yang bermanfaat bagi generasi mendatang.
Rovicky: tahu kalau aku mengarah kedepan ya … makanya aku lebih suka menuliskan di blog ketimbang koran
me : lah koran akan segera terlupakan…
Rovicky: hihihhi
me : kalau di virtual itu generasi mendatang masih bisa membaca.. dan itu bagian dari knowledge management yang tidak banyak disadari orang. knowledge managemenet dan transfer knowledge sekaligus.
Rovicky: hiya mo … jarang yg berpikir kedepan … jauuuh. kesadaran temporal itu emang langka rupanya …:P
kronologis maneh.
me : lah geologist kan mestinya sadar ruang dan waktu…
Ternyata, Mas Rovicky mengapresiasi ide monumen virtual itu karena menurut beliau monumen virtual akan memenuhi kebutuhan di masa mendatang, bukan hanya kebutuhan saat ini. Karena beberapa monumen yang dibuat di masa lalu, kadang hanya tinggal menjadi sebuah bagian sejarah, sedangkan pesan utamanya terlupakan. Sedangkan pertimbangan saya, monumen virtual akan lebih abadi, dibaca oleh banyak orang pesannya, tersebar luas, bisa sebagai knowledge management sekaligus knowledge transfer. Dari sisi biaya relatif tidak mahal, dan bisa mengikuti perkembangan teknologi, dan bisa jadi media sharing dengan ahli lain yang berkompeten.
Saat ini, Mas Rovicky sudah memulai dengan Dongeng Geologi-nya, apakah akan diikuti oleh geologist yang lain? Tidak mudah memang, dan sangat mungkin untuk dilakukan, membuat Monumen “Virtual” Gempa yang mungkin kita butuhkan. [kom1009]
Syawalan: Mengudap Ketupat Opor Ayam
October 3, 2009 at 5:24 pm | In Acara Keluarga | 2 CommentsMengudap Ketupat Opor Ayam
Minggu, 27 September 2009, saya berlebaran ketupat di rumah Klaten. Rencananya kami berangkat dari Jogja sehabis dhuhur, namun mundur karena kami diajak menganter mBak Endit dan Mas Wisnu yang akan balik ke Jakarta di terminal Jombor. Akhirnya sekitar jam 3-an kami berangkat dari Jogja.
Tidak seperti lagu Tasya, “ketupat Lebaran dengan sayur opor ayam, tersedia di meja sepulang dari sholat..”, lebaran ketupat di Klaten dilaksanakan seminggu setelah lebaran Idul Fitri. Logikanya, setelah puasa ramadlan kemudian lebaran sehari, hari kedua dan selanjutnya puasa syawal selama 6 hari, dan hari ke-8 lebaran syawal a.k.a lebaran ketupat. Lebaran ketupat ini dirayakan dengan acara yang cukup besar di dekat rawa Jombor, yang merupakan tradisi yang sudah turun temurun, dengan menyebar ketupat dari atas panggung dan acara-acara hiburan lainnya.
Kami sampai di rumah sekita jam 4-an, Ibu sudah menunggu kedatangan kami sejak pagi. Makanan khas lebaran ketupat pun sudah disiapkan. Menu utamanya adalah ketupat, sompil, sambel goreng tholo, bubuk kedelai dan tentu saja opor ayam. Ibu termasuk orang yang mempunyai kelebihan dalam hal masak-memasak, makannya nyamleng, bahkan beliau sering dibon untuk masak di tempat orang punya hajat. Setelah berbincang-bincang ke sana kemari dan Afa main di halaman, menu lebaran ketupat dihidangkan di ruang tamu.
Ketupat merupakan menu utama di lebaran ketupat sebagai pengganti nasi, menggunakan beras sebagai bahan baku utama, dan dibungkus dalam selongsong ketupat berbahan janur, kemudian direbus selama 3-5 jam agar matang dan awet sampai beberapa hari. Dulu saya mengenal beberapa macam jenis selongsong ketupat, ada ketupat luar, shinta, kodok, dan favorit saya ketupat jago.
Mencecap Manisnya Salak Madu
September 29, 2009 at 10:01 pm | In Kebonku | 7 CommentsTags: Balerante, Salak, Salak Gading, Salak Madu, Salak Pondoh, Sleman, Sukomartani
Mencecap Manisnya Salak Madu
Minggu, 27 September 2009, saya berkesempatan menikmati manisnya salak madu, bukan hanya sekedar salak madu Balerante, tetapi juga salak madu Sukomartani.
Salak Madu adalah salah satu salak unggulan Kabupaten Sleman yang memiliki produktivitas tinggi, berkualitas cukup baik, daging buah tebal dengan tekstur lembut dan rasa manis spesifik seperti madu.Salak madu memiliki ciri kulit dengan sisik yang tersusun teratur membentuk garis lurus dari bagian bawah buah ke ujung pada salah satu sisinya, berbeda dengan salak pondoh dan gading memiliki kulit buah dengan sisik yang tersusun teratur seperti susunan genteng.
Saat ini, ada dua varian salak madu yang dikembangkan di Sleman, yaitu:
1. Salak Madu Balerante, yang sudah dilepas sebagai varietas unggulan.
2. Salak Madu Sukomartani yang juga dikenal sebagai salak madu Probo.
Perbandingan sifat fisik buah salak madu, salak pondoh dan salak gading seperti terlihat di tabel di bawah ini.
Perbandingan Buah Salak Madu Balerante, Salak Madu Soka,
Salak Pondoh dan Salak Gading [Sumber: Si Manis Madu dari Sleman]
Salak madu memang lebih enak dari salak pondoh super, apabila daging buah dipencet dengan jari akan keluar cairan seperti madu, cairan ini tidak dijumpai pada salak pondoh dan salak gading. Kelebihan salak madu, disamping rasanya yang juicy, harganya relatif lebih mahal dan populasinya masih sedikit. Kekurangannya, market untuk salak madu belum terbentuk seperti salak pondoh
Tandan Salak Madu
Napak Tilas Pak Harto di Bakmi Geno
September 29, 2009 at 9:18 pm | In Acara Keluarga, Kuliner | 2 CommentsTags: Bakmi Geno, Bakmi Godog, Bakmi Godog Brutu, Bakmi Goreng, Bakmi Jawa, Bakmi Jawa Pak Geno, Brutu, Jogja, Magelangan, Pak Harto, Prawirotaman, Yogyakarta
Napak Tilas Pak Harto di Bakmi Geno
Bakmi Jawa Pak Geno, Jl. Parangtritis, Pasar Prawirotaman, Yogyakarta
Handphone : 081328576550
Sabtu 26 September 2009, saya, Mas Eko dan mBak Endit sekeluarga berencana makan malam di Bakmi Geno di pasar Prawirotaman setelah ujung ke rumah Pak Dhe Djam di Suryowijayan. Kami berangkat dari rumah Turi jam 18.45 dan sampai di rumah Pak Dhe Djam sekitar jam setengah 8, sayangnya keluarga Pak Dhe Djam sedang bersyawalan di dekat THR, sehingga kami memutuskan langsung ke Bakmi Geno.
Bakmi Geno adalah salah satu legenda bakmi jawa di Jogja, mulai berjualan pada tahun 1952 dan sejak September 1988 digantikan oleh anak tertuanya Pak Harjo Geno karena Pak Geno meninggal dunia. Salah satu pelanggan Pak Geno adalah Pak Harto, presiden RI yang kedua. Bakmi Geno terletak di pasar Prawirotaman, jalan Parangtritis. Dari Pojok Beteng Wetan ke selatan, tidak begitu jauh.
Bakmi (Harjo) Geno
Kami menggunakan 2 mobil kijang, dan menempuh perjalanan yang tidak begitu lama dari Suryowijayan. Kami sampai di Bakmi Geno sekitar jam 20.15. Ketika kami sampai, banyak pembeli yang menunggu pesanan bakminya. Kami memperoleh dua meja kecil dengan beberapa kursi. Continue reading Napak Tilas Pak Harto di Bakmi Geno…
Mengudap nYamlengnya Sate Karang Pak Prapto
September 29, 2009 at 9:01 pm | In Acara Keluarga, Kuliner | 2 CommentsMengudap nYamlengnya Sate Karang Pak Prapto
Sate Karang Pak Prapto, Jl. Nyi Pembayun, Lapangan Karang Kota Gede
Telp. (0274)7807371 / 4436701
Rabu 23 September 2009, saya dan Mas Eka berencana menikmati makan malam di sate Karang Kotagede. Kami sudah cukup lama merencanakan menikmati salah satu ikon kuliner ini bersama-sama karena terpesona oleh kabar nikmatnya sate karang. Kami kemudian mengajak Mas Kun yang kebetulan sedang mudik ke Jogja untuk ikut serta. Setelah maghrib, kami bertiga bersama keluarga masing-masing berangkat menggunakan Innova Mas Kun, 10 orang termasuk anak-anak berjejalan di dalam mobil. Dari rumah Turi yang terletak di utara Jogja, kami harus menyeberang Jogja yang macet di waktu lebaran untuk sampai di Kotagede. Untuk mengantisipasi itu, kami lewat jalan pedesaan yang langsung tembus ke ringroad Maguwoharjo, menuju Janti, keselatan dan sampai lapangan karang setela menempuh satu jam perjalanan.
Sate Karang merupakan salah satu ikon kuliner Kota Gede. Disebut Sate Karang karena lokasi penjualannya di Lapangan Karang, Kota Gede. Sate ini dibuat dari daging sapi yang dibumbui saus kacang lalu disajikan bersama lontong dan kuah lodeh. Sate Karang mulai berjualan sejak tahun 1948, dijajakan berkeliling oleh Pak Karyo Semito, ayah Pak Prapto. Dan sejak tahun 1955, Pak Karyo memutuskan menetap di Lapangan Karang. Ada dua orang anak penerus Pak Karyo dalam berjualan sate sapi, Pak Prapto di lapangan Karang ini dan Pak Cipto yang membuka warung di jalan Kemasan Kotagede.
Sate Karang Pak Prapto
Ketika kami sampai, sekitar jam 8 malam, pengunjung sangat ramai, sehingga kami hanya memperoleh sedikit tikar di bawah tenda. Warung makan ini memang tidak menyediakan kursi sebagai tempat duduk, hanya tikar yang dihamparkan di atas tanah lapangan dan trotoar, ada yang beratap tenda dan ada yang beratap langit. Kami kemudian memesan minuman dan makanan. Minuman yang tersedia adalah teh poci dan wedang ronde. Saya memesan keduanya. Sedangkan makanannya yang tersedia di sate karang adalah sate bumbu kacang, sate bumbu kecap, sate bumbu kocor, lontong bumbu kacang dan lontong sayur sayangnya sate bumbu kocornya sudah habis.
Continue reading Mengudap nYamlengnya Sate Karang Pak Prapto…
Menikmati Aneka Masakan Jamur di Jejamuran
September 28, 2009 at 10:37 pm | In Acara Keluarga, Kuliner | 10 CommentsTags: Jamur, Jejamuran, Jogja, Kuliner, Kuliner Jogja, Masakan Jamur, Sleman
Menikmati Aneka Masakan Jamur di Jejamuran
Jejamuran, Niron, Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta, 55512
telpon 0274 868170
Selasa 22 September 2009, saya, Afa dan Ibunya berencana makan siang di Jejamuran. Karena saya ingin mengupdate tulisan tentang Jejamuran sambil menikmati makan siang yang lezat dan sehat di Yogyakarta. Sedangkan Afa sudah lama ingin menikmati soup jamur ala Jejamuran.
Jejamuran resto adalah sebuah rumah makan dengan keunggulan penggunaan bahan baku utama jamur yang dipadukan dengan menu tradisional. Bahan baku jamur mengandung berbagai macam asam amino, mineral, vitamin dan senyawa bioaktif yang baik bagi kesehatan, jamur juga telah terbukti menaikkan system kekebalan tubuh, menurunkan tekanan darah dan kandungan lemah dalam tubuh, menghambat partumbuhan tumor, antiinflmasi dan antimikroba.
Jejamuran resto terletak Jejamuran, Niron, Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta, 55512 telpon 0274 868170. Dari arah kota Yogya kearah Magelang sampai dengan perempatan Beran Lor, kemudian belok kanan/ utara kira-kira 800 meter. Restoran ini dimiliki ole Bapak Ratidjo yang dikelola bersama dengan istrinya.
Kami bertiga naik sepeda motor dari rumah, berboncengan. Sekitar jam 11.00, tidak lebih dari 15 menit perjalanan, kami sudah sampai di Jejamuran Resto. Hari ini merupakan hari pertama Jejamuran buka setelah libur lebaran, pengunjung sangat ramai, terlihat beberapa mobil dengan plat luar kota ada di parkiran.
Daftar Menu
Setelah memarkir motor, kami kemudian masuk ke dalam rumah makan, di pintu masuk kami disambut oleh pelayan rumah makan yang memberikan daftar menu dan menunjukkan meja kosong yang bisa kami tempati. Beruntung kami me ndapat meja kosong untuk empat orang di sudut rumah makan, sementara kami lihat beberapa meja yang lain penuh atau sudah dipesan.
Continue reading Menikmati Aneka Masakan Jamur di Jejamuran…
Buka Bersama Bekasap Meter
September 10, 2009 at 10:54 pm | In Acara Keluarga | 2 CommentsBuka Bersama Bekasap Meter
Selasa, 2 September 2009, saya berangkat dari rumah jam 17.50 menuju Library Cafe untuk menghadiri buka bersama Bekasap Meter. Tidak lama kemudian saya sudah sampai di parkiran Messhall di samping LIbrary Cafetiba-tiba Sari telpon menanyakan posisiku ada di mana, ternyata Sari juga baru sampai. Hari ini, kami anggota tim Bekasapa Meter akan berbuka puasa bersama dengan keluarga. Sari sudah mereserver tempatnya, sehingga ketika kami datang sudah tersedia tempat duduk untuk 15 orang.
Tidak lama kemudian, satu persatu anggota tim Bekasap Meter datang bersama dengan keluarga. Selvyn datang sendiri, Pak Jess datang bersama dengan istri, Yuni Budi datang bersama dengan istri dan 2 orang anaknya, Bli Agung datang bersama istri dan ketiga anaknya, sementara Hanna datang bersama dengan Mas Chriswandaru.
Yuni Budi’s Family
Berutang sesuai Rasio dan Aturan Main
September 6, 2009 at 7:55 am | In Keuangan Keluarga | 2 CommentsTags: Adler H Manurung, Aturan Main, Berutang, Financial Check Up, Penghasilan, Penghasilan Bersih, Rasio Utang, Safir Senduk, Total Aset
Berutang sesuai Rasio dan Aturan Main
Bulan ini saya mulai membayar angsuran untuk pinjaman di bank yang saya gunakan untuk membeli tanah. Angsuran ini dipotong langsung dari rekening bank mandiri saya dan menambah beban angsuran sebelumnya untuk kredit kepemilikan mobil. Sampai saat ini, utang terbesar saya adalah utang untuk membeli tanah dan membeli mobil, yang keduanya saya lakukan dalam rentang waktu 1,5 tahun dengan lama utang 5 dan 4 tahun.
Menurut Adler H Manurung ada beberapa aturan main dalam berutang, antara lain:
1. Rasio utang dengan penghasilan
2. Rasio utang terhadap total aset
3. Rasio penghasilan bersih terhadap pembayaran utang.
Perbandingan Utang dengan Penghasilan
Sumber: ehow
Saya akan mencoba membuat financial check up terhadap kondisi keuangan dan utang-utang saya menggunakan aturan main di atas dalam tulisan saya di bawah ini, hasilnya nanti akan saya gunakan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dan merubah strategi agar sesuai dengan aturan main yang ada.
5 Tahun Pernikahan: Dari Lamaran sampai Lahirnya Anak Pertama
September 2, 2009 at 9:38 pm | In Acara Keluarga | 11 CommentsTags: Bhakti Ibu, Calista, Jogja, Lamaran, Nikah, Sleman, Undangan, Yogyakarta
5 Tahun Pernikahan: Dari Lamaran sampai Lahirnya Anak Pertama
Hari ini, 2 September 2009, tepat5 tahun lalu saya menikah dengan istriku Rini Maya Puspita, di dusun Kendal, Bangunkerto, Turi Sleman. Acara pernikahan berlangsung lancar dan meriah, dihadiri oleh keluarga besar kami, teman-teman kami dan tetangga. Meskipun acara berlangsung pada hari Kamis yang merupakan hari kerja, ternyata tidak menjadi halangan bagi para undangan untuk menghadiri pernikahan kami.
Berikut ini beberapa dokumentasi proses pernikahan dari mulai lamaran, akad nikah dan resepsi. Dan beberapa momen setahun berikutnya ketika anak kami lahir dan foto keluarga kami saat Afa berumur 3 bulan.
Lamaran
Tanggal 4 Juli 2004, rombongan keluarga kami datang ke rumah Rini untuk melakukan lamaran. Rombongan terdiri dari keluarga kami beserta pemuda-pemudi kampung. Rombongan ini di pimpin Pak Lurah yangg kebetulan sepupunya Ibu. Rombongan berangkat dari rumah jam 9-nan, menggunakan 1 buah bus dan 4 kendaraan pribadi. Rombongan ini selaian akan melakukan lamaran juga membawa hantaran lengkap untuk dijadikan peningset. Acara lamaran berlangsung dengan lancar, Pak Lurah mewakili keluarga kami dan Pak Dhe Syam mewakili kelurga Rini. Setelah lamaran diterima, kemudian ditentukan tanggal pernikahan, yaitu hari Kamis 2 September 2004, akad nikah jam 07.00 WIB. Continue reading 5 Tahun Pernikahan: Dari Lamaran sampai Lahirnya Anak Pertama…
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.

Menuangkan Teh
Secangkir Teh










