Wortel Nelung Ewu Sakunting

December 22, 2011 at 4:56 pm | Posted in TOMoGrafi | Leave a comment

Wortel Nelung Ewu Sakunting


Siang tadi, sehabis workshop FKG UGM di Salatiga, kami sekeluarga singgah di Kopeng. Kopeng merupakan tempat wisata di sisi utara gunung Merbabu, masuk kabupaten Semarang yang beribukota di Ungaran. Selain tempat wisatan kopeng yang berketinggian 1300-an meter juga di kenal sebagai penghasil sayur2an seperti waluh, japan, wortel, kailan dan brokoli. Sayuran ini dikirim ke kota-kota terdekat seperti semarang, magelang dan Jogja.

Sesampai di kopeng, kami memarkir mobil di depan warung makan. Afa yang tertidur segera bangun dan minta naik kuda bersama Eyangnya. Naik kuda merupakan kesenangan tersendiri baginya semenjak pertama kali naik di Tangkuban Perahu 3 tahun lalu. Setelah Afa naik, Luki yang agak kurang enak badan ogah2an ketika ditawari, dan akhirnya mau juga naik kuda bersama Ibunya. Saya pun akhirnya ikut2an naik kuda menemani mereka, sampai ke air terjun di kawasan wisata Kopeng. Afa dan Luki langsung balik sementara saya mengikuti tantenya Afa turun ke air terjun, dia jalan kaki dari parkiran ke air terjun, dan membayar 5 ribu di pintu masuk.

Sesampai di parkiran, saya membayar kuda, 40 ribu, relatif mahal memang, ning mungkin itu sepadan dengan ongkos operasional mereka dan jarak yang ditempuh, belum lagi itu termasuk retribusi 6 ribu/ orang. Sesudah naik kuda, kami duduk-duduk di atas lincak di bawah rindang pohon beringin. Semilir angin yang bertiup membuai kami, dan Ibunya Afa pun terlelap bersandar dibahuku, sementara Luki nyaman digendongannya. Sementara Afa memuaskan keinginan mainannya di taman yang dilengkapi berbagai macam mainan.

Ketika saya sedang menikmati suasana, berdiri di hadapanku seorang nenek yang lanjut usianya, mungkin di atas 60 tahun. Di tangannya tergegam keranjang penuh jipan di tangan kanan, sementarra tangan kirinya keranjang berisi beberapa unting wortel. Dia, dengan gigih menawarkan dagangannya, dan sayapun tidak berani menatap bola matanya.m ada kegigihan pada dirinya, sementara hatiku bergolak antara iba dan realitas tak ada lagi ruang di jazz kecil kami. Namun akhirnya saya merogoh kocek, tersisa 3 ribu rupiah yang cukup untuk membeli seunting wortel yang dijajakannya.

Di benakku kembali berkecamuk bermacam-macam pikiran. Antara kagum dengan orang tua yang masih memiliki etos kerja yang tinggi, dan prihatin atas nasib petani kita. Pernahkah terbayang seunting wortel harganya cuma 3 ribu rupiah? Hanya setengah dari segelas jus wortel yang bias dijual di warung-warung. Terbayangkah kerja keras petani yang mulai menyiapkan lahan, menyemai bibit, merawat tanaman, memanen dan menjualnya?
Menjadi petani saat ini, mungkin tak semenarik buruh dengan upah UMR, apalagi dengan PNS.

Dan ketika saya pulang ke Jogja, galau itu tetap kubawa. Kapankah petani kita akan sejahtera? Diriku pun hanya berharap, anak cucu penjual sayur di parkiran Kopeng itu menemukan jalan hidup yang lebih baik. Begitu juga keluarga saya dan Anda, semoga hidup semakin baik dari generasi ke generasi berikutnya.

Turi, 18 Desember 2011

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: