Lapek Pisang Sibu Matuih

November 18, 2011 at 11:08 pm | Posted in TOMoGrafi | 3 Comments

Lapek Pisang Sibu Matuih

Saya, terbiasa bercanda dengan teman-teman saya, “kojo sibu, ndak kojo matuih, kojo ndak kojo sibu matuih” (kerja seribu, tidak bekerja limaratus, kerja tidak kerja seribu limaratus). Dan tadi siang, sewaktu saya singgah di Minas dalam perjalanan ke Rumbai dari Duri saya teringat dengan candaan itu karena membeli makanan seharga 1500 rupiah.

Minas, merupakan lapangan minyak terbesar di Asia Tenggara, saya lupa ukuran pastinya, yang jelas total produksinya 4,5 milyar barel lebih. Saya pernah bekerja di Minas tahun 2001-2003 sebagai asisten dosen saya yang mroyek dan kemudian meneruskan proyeknya sendiri. Tahun 2005-2008 saya kembali ke Minas sebagai Development Geologist di Area 1,2,3, atau separuh dari aset lapangan Minas. Tahun 2008 saya pindah ke Duri untuk bekerja di Lapangan Bekasap. Interaksi saya yang agak lama dengan budaya Minang dan Melayu sewaktu saya bekerja membuat saya sedikit tahu bahasa Minang sehingga bisa tahu candaan di atas, kojo ndak kojo sibu matuih.

Kembali ke sibu matuih, ketika singgah di Minas, saya sholat Asar di masjid al Fatah dan kemudian minum di kantin yang ada. Saya memesan the panas, sate padang dan menikmati makanan kecil. Makanan kecil tersebut, mengingatkan makanan di ndesa saya, namanya ungkusan gedang atau carang gesing. Seingat saya, bahan makanan ini adalah pisang yang dicampur dengan tepung dan santan beserta gula dan dikukus sehingga rasanya manis, sesuai dengan ilat ndesaku. Makanan ini cocok untuk dinikmati dengan the panas sembari santai. Kalau Anda penasaran, silahkan lihat fotonya di lampiran.

Ketika membayar, saya iseng-iseng menanyakan nama makanan kecil yang saya makan tadi. Saya berharap keluar nama carang gesing atau bungkusan pisang. Tetapi surprised, ternyata penjualnya menjawab lapek pisang (lepat pisang). Terkejut karena makanan Minang terkenal dengan citarasa pedasnya, dendeng balado, sanjai, asam padeh, dsb-dsbnya. Lha kok ini ada yang nyolong pethek rasanya manis. Dan ternyata, harga lapek pisang ini tidak mahal, sibu matuih. Murah untuk sebungkus makanan yang bisa mengobati rasa kangen dengan ndesa masa kecilku.

Apakah di daerah Anda juga ada makanan sejenis? Kalau ada apakah namanya?

Salam kojo ndak kojo!

Rumbai, 18 November 2011

 
 

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Enak ni lapek pisang sibu matuih#karena harganya seribu maratus ya bg….salam kenal bg dari pekanbaru

  2. Lauk pauk Minang memang rata-rata pedas. Tapi panganan lebih banyak yang manis, seperti lapek pisang ini. Ini bagian kuliner desa saya juga, dan saya sering juga bikin untuk makanan kecil anak2 di rumah.

  3. Waduh,.. kayak nya km nggak nyambung deh… nggak mungkin dong,mentang2 orang minang sukanya yg pedas2 terus dia bikin lapek yg rasanya pedas,.. wakakakaaka.. segala sesuatu itu ya di taruh pd tempat nya,..misal nya ayam,. kalau ayam itu kan daging,ya harus dibikin pedas contoh dibikin goreng balado atau dibikin rendang,.. lha .. di tempat mu,??? daging ayam kok dibikin kolak,.. tentu saja manis barang tu,..tersiksa si ayam,dipaksa jadi pisang yg seharusnya dikolak,.. hehehehehe.. sakik ang..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: