Tanah Warisan

November 12, 2011 at 8:08 pm | Posted in TOMoGrafi | Leave a comment

Tanah Warisan

Rabu 9 November 2011, saya ditelpon adikku -Susilo- ketika sedang dalam perjalanan Rumbai-Duri, setelah dari Jakarta. Adikku mengabarkan kalau salah satu Pak Dhe (kakak Ibu) opname di salah satu rumah sakit. Sayang, adikku telat memberitahu sehingga saya tidak bisa menjenguknya pas di Jakarta kemarin. Dan yang lebih mengejutkan, adikku dimintai tolong oleh Om (adik Ibu) untuk menjualkan tanah bagian Pak Dhe untuk biaya pengobatan.

Ibuku, berasal dari keluarga petani penggarap yang tidak memiliki lahan sawah sendiri. Semua saudaranya merantau di Jakarta dan hanya Ibu yang tinggal di kampung halaman. Dari sisi ekonomi, keluarga kami yang mengandalkan gaji PNS alm Bapak, mungkin yang paling pas-pasan. Dengan mengandalkan gaji tersebut harus menghidupi empat orang anak dan menyekolahkannya sampai menjadi sarjana. Ya memang pas-pasan, cukup juga kalau dicukup-cukupkan.

Kembali ke tanah warisan, Ibu mendapat warisan tanah dari nenek, berupa sebidang tanah yang terletak di tengah kampung, di antara rel kereta dan sungai kecil yang membelah kampung kami. Sewaktu kecil, saya mengimpikannya untuk membuat kolam. Sayang, atau untungnya tanah Ibu dijual ke tetangga untuk membayar biaya sekolah kami, terutama saya yang semenjak SMA di Jogja. Sayang karena menjual tanah warisan adalah hal yang “saru”, sesuatu yang kuketahui kemudian, dan sayapun tidak bisa bertindak apa-apa. Dan untungnya, Ibu memilih untuk merelakan warisannya dan menggunakannya untuk menyekolahkan anak-anaknya, prinsipnya biarlah anak-anaknya diwarisi pendidikan yang baik bukan materi.

Ketika mendengar tanah Pak Dhe akan dijual, yang terbayang di benakku yang dibenakku adalah beliau membutuhkan uang segera, dan kenangan mengenai tanah Ibu yang terjual untuk sekolah kami. Mungkin, ini kesempatan bagi saya untuk membeli tanah Pak Dhe dengan harga pasar yang berlaku, dan menjadikannya sebagai pengganti tanah warisan Ibu yang terjual untuk kami sekolah. Saya kemudian itung-itungan dengan adikku, berapa luas tanah, harga pasar dan uang yang diperlukan untuk membayarnya, yang ternyata masih terjangkau oleh budgetku.

Saya kemudian menghubungi Ibunya Afa untuk meminta persetujuan, dan sesudahnya kembali menghubungi adikku untuk mengurus prosesnya. Kemarin, adikku sudah membayarkan sebagian dan mudah-mudahan minggu depan dilunasi. Semoga Pak Dhe bisa memperoleh perawatan terbaik dan segera pulih seperti semula.

Dan semoga, sepetak tanah di kampung masa kecilku, bisa menjadi hadiah ulang tahun Ibuku bulan depan, sekaligus hadiah atas keyakinan dan usahanya, menjadikan pendidikan adalah warisan terbaik bagi anak-anaknya.

Sudahkah Anda mempersiapkan pendidikan generasi penerus Anda dengan baik?

Selamat berakhir pekan, hepenaiswiken!

Duri, 12 November 2011.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: