Nasib Sang Ratu Daun

November 12, 2011 at 8:12 pm | Posted in TOMoGrafi | 4 Comments

Nasib Sang Ratu Daun

Beberapa tahun yang lalu, aglaonema atau sri rejeki melejit pamornya. Dari tanaman hias berubah menjadi komoditi bisnis yang harganya puluZhan bahkan ratusan juta. Booming ini diawali dengan penemuan silangan asli Indonesia yang dilakukan oleh Greg Hambali, pemulia tanaman yang tinggal di Baranangsiang Bogor.

Penemuan awal, pride of sumatra dan donacarmen menjadi tanaman berkelas yang menjadi idola penghobi tanaman. Pride of sumatra bahkan pernah menjadi juara dalam lomba tanaman hias di Belanda. Namun booming baru benar-benar terjadi ketika seri aglaonema batik diluncurkan, dengan maskot bernama adelia dan mencapai puncaknya ketika sepot harlequin dihargai 660 jt.

Saya, pertama kali membeli aglaonema di pameran tanaman hias di Jogja, jenisnya donacarmen yang harganya sudah sangat murah. Saya menaruh tanaman itu di Klaten, yang kemudian bernak pinak menjadi banyak. Saya pun sempat mencari tanama ini di salah satu pameran di TMII bareng Ana (Tri Buana), jenis yang kami beli Lady Valentine, penjualnya bernama Ukay, pemilik An Nisa flora Rawa Belong yang kemudian menjadi kawan saya. Dan saya benar-benar teertarik dengan tanaman ini ketika saya berkunjung ke rumah Ibu Tati Suroyo, penggemar senior yang tinggal di Jakarta Selatan, dan mengunjungi pameran flona di lapangan Banteng 2005. Di flona inilah saya membeli adelia, wuih senengnya.

Setelah sempat mencapai puncak kejayaannya, pamor aglaonema turun tergerus naiknya pamor anthurium, khususnya jenmanii. Pada masa jayanya, sedaun adelia dihargai 500 ribu, sementara hot lady dan tiara sekitar 2,5 jt perdaun. Crazy😀, ning gimana lagi namanya hobby, banyak yang membelinya juga. Ning sebagai hobbyst kelas rt/ rw, saya tidak ikut arus untuk membelinya. Saya baru membeli jenis-jenis itu, ketika harganya sudah jatuh bebas, termasuk memiliki Harlequin.

Akhir-akhir ini, ketika saya singgah di Bandara Sukarno Hatta, saya sering melihat aglaonema itu dipajang di toilet terminal F. Kemarin saya sempat memfoto salah saatunya, pride of sumatra. Saya selalu suka dengan tampilan tanaman ini, gagah dengan warna daun merah yang berasal dari induknya yang berasal dari daerah Bukit Lawang Sumut.

Ketika melihat tanaman itu, ingatan saya melayang ke teman-teman yang membuat organisasi aglaonema Indonesia (Wak Zainuddin Siregar, Mas Judi Ginta dan kawan-kawan), yang ad artnya kubuat, juga kepada kolektor senior sekelas Ibu Tati Suroyo, Pak Henry Biantoro. Dan teman yang tak pernah kulupakan Rossy dan Destika Cahyana yang sampai sekarang masih berkarier di Trubus.

Aha ternyata nasib sang ratu daun kini berakhir sama dengan tanaman hias yang lain. Apakah Anda juga pernah mengoleksi tanaman ini? Atau Anda memiliki hobby yang lain?

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Gara2 Aglaonema & Anthurium, banyak pebisnis anggrek yg banting stir ke dua komoditi trsbt…, & akhirnya banyak yg berantakan.., & gk bs bangkit lagi hingga saat ini.. Malah dulu sempet rekanan sy seorang pedagang tanaman hias hampir mampus diracun setelah ngasih DP 30jt utk pembelian Anthurium.. Kalo sy gk tergiur krn tanaman trsebut terlalu mudah diperbanyak dg mengambil anakannya ato dg bijinya.., meski utk memperoleh vaeritas baru butuh ketekunan & kesabaran.. Tp begitu tanaman tsb dewasa mau diperbanyak sampai berarapa ribu jg bukan hal yg susah..

    Dino Blangkon

    • saya sempat punya anthurium dan aglaonema, juga adenium🙂 ….
      aglaonema saya sempat punya sekandang hasil dari perbanyakan, sekarang
      tinggal beberapa pot di rumah Klaten, yang di rumah Jogja tinggal
      ditaruh di bawah rumpun salak di dekat kolam tidak dipelihara lagi….

      kalau anthurium, di rumah masih banyak, jenmanii, sirih (radican x
      dreslerii), jimenesi, black beauty, gelombang cinta, hookeri
      dsb2nya…. subur2. Saya dulu sempat beli dengan harga 40 ribu, sudah
      agak gede, pas booming jenmanii.. di beli 1,75 jt, terus 7 jt…. dah
      tak bilang ke yang beli kalau ini momentum sesaat, ning ngeyel dibeli.
      Sempat juga rumah didatangi preman gara2 pembantu iseng nawarkan
      gelombang cinta 600 ribu, terus ditawar 350 ribu, ning ndak boleh…
      dan sorenya didatangi preman dengan tawaran 600 ribu se pot…. masa2
      irasional ….

      Sik belum ada 50 pot aneka phalaenopsis dari Dhe Dino🙂, hopefully someday….

      • Itu masuk majalah Trubus, trs dikasih nama Jenmani Innova..😀

        Blangkon

  2. Hihihihi… 3 anthurium jenmani ibuku ditukar orang jadi inova baru. Ibuku yg ngerawat hanya karena kesukaannya berkebun sampai terkejut-kejut😀

    Arum


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: