Selamat jalan Bu Pujo, damailah di sisi-Nya

October 27, 2011 at 4:42 pm | Posted in TOMoGrafi | Leave a comment

Selamat jalan Bu Pujo, damailah di sisi-Nya

 
(ini merupakan notesku setahun yang lalu, setelah mengetahui Bu Pujo “ibu para pecinta alam Jogja” meninggal dunia setelah erupsi Merapi 26 Oktober 2011, saat ini jarak antara kami para pecinta alam Jogja dengan beliau hanya “sedekat doa yang selalu kami titipkan pada Sang Waktu ” )

Rabu, 27 Oktober 2010, saya terkejut mengetahui Bu Pujo meninggal dunia setelah di rawat di RS Sarjito. Malam sebelumnya saya tahu kalau Bu Pujo dirawat di RS Sarjito dan pak Pujo di rawat di RS Bethesda. Sebelumnya saya mengira kalau luka bakar Pak Pujo lebih parah dari Bu Pujo. Pak Pujo, suami Bu Pujo adalah wakil mBah Marijan dan bergelar Surakso Miyono, sedangkan Bu Pujo adalah pembantu utama mBah Marijan ketika sedang mengurusi Labuhan. Di rumah Bu Pujo inilah kuda dari keraton di pelihara, bersama dengan sapi-sapi Pak Pujo.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, semoga Bu Pujo memperoleh tempat terbaik di sisi Allah SWT, diampuni semua kesalahannya dan diterima semua amal ibadahnya.

Sebuah kehilangan yang besar bagi saya pribadi, karena saya cukup lama mengenal dan berinteraksi dengan beliau cukup lama. Saya membagi interaksi kami menjadi 3, yaitu sebelum 1994, 1994-lulus kuliah, dan setelah saya bekerja.

1. 1991-1994

Periode ini adalah masa-masa saya bermain di lereng selatan Merapi bersama dengan teman-teman FKPPA dan HPAI Panorama. FKPPA adalah forum komunikasi pelajar pecinta alam DIY, yang diinisiasi oleh saya dan beberapa teman yang tujuannya untuk menjalin komunikasi diantara pecinta alam SMA dan mengelimir kendala2 yang dihadapi oleh pecinta alam sma dalam berkegiatan. Waktu itu Bu Pujo berjualan di bagian barat rumah Pak Udi di depan rumah mBah Marijan. Saya biasanya makan malam di situ, dengan menu nasi goreng, tempe goreng dan teh panas. Biasanya saya memasak sendiri nasi gorengnya, karena saya tidak memakai vetsin dan menggantinya dengan bawang putih. Saya pun biasanya tidur di amben yang ada di bagian depan warung. Terakhir saya mengunjungi warung itu 12 November 1994, sebelum saya mendaki Merapi dari selatan, yang menjadi pendakian pertama dan terakhirku di Merapi dari sisi Selatan. Dan akhir November 1994, merapi meletus dan awan panasnya menyapu Turgo, dan sejak itu warung Bu Pujo tutup.

2. 1994-2000

Periode ini adalah masa-masa saya bermain di lereng selatan Merapi bersama dengan teman-teman Panorama, teman-teman SMA 3 dan teman-teman Sekber PPA DIY. Kami menggunakan rumah Bu Pujo untuk menjadi base camp kami dalam berkegiatan yang berlangsung di timur Plawangan. Kadang-kadang saya datang sendiri ke rumah Bu Pujo, sekdar untuk menyepi atau jalan-jalan. Pada periode ini beberapa pemberian beliau yang masih saya ingat, anggrek vanda tricolor yang diambil dari pohon alpukat, bibit palem yang diambil dari hutan dan yang spesial kayu tesek.

Ada cerita menarik mengenai kayu tesek ini yang konon diambil secara khusus dari hutan Merapi. Kayu tesek ini biasanya diminati oleh pejabat dan diambil di hari tertentu di bulan Suro. Saya pernah meminta ikut untuk mengambil kayu tesek langsung ditempatnya, namun tidak diijinkan dan saya diberi sebongkah kayu tesek. Kayu tesek itu rencananya mau saya bikin tasbih, sayang kayunya hilang ketika dititipkan tetangga untuk dipotong.

3. 2000-…..

Setelah lulus kuliah, saya jarang bermain ke rumah Bu Pujo, hanya beberapa kali seingat saya. Yang paling saya ingat adalah tahun 2004 sehabis saya makan siang di Morolejar. Saya datang bersama calon ibunya anak-anak dan saudara2nya. Saya sempat berfoto bersama dengan Bu Pujo, yang tampak bangga melihat saya bakal menjadi “orang” dan akan menikah dengan dokter🙂.

Berikut ini foto kami bersama, yang mungkin akan menjadi kesempatan satu2nya foto bersama Bu Pujo. Sayang waktu itu Pak Pujo sedang di ladang.

Terakhir saya mampir ke rumah Bu Pujo beberapa saat setelah letusan Merapi 2006.

Itulah, sekilas interaksi dengan Bu Pujo yang masih teringat dikepalaku. Sekali lagi, selamat jalan Bu Pujo, bersemayamlah dalam damai di lereng Merapi, semoga memperoleh tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Allahhummaghfir laha warhamha wa’aafiha wa’fu anha, Allahumma laa tahrimnaa ajraha walaa taftinna ba’daha waghfirlanaa walaha

Duri, 28 Oktober 2010

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: