Apakah Sekolah Lagi itu Perlu?

October 5, 2011 at 3:35 pm | Posted in TOMoGrafi | Leave a comment

“Mustahil mengandalkan ijazah S1 yang diperoleh setelah kuliah 4 tahun untuk bekerja sampai pensiun” (Ong Han Lin, 2010).

Kalimat di atas kudengar langsung dari Pak Ong, dosen Ekonomi Migas sekaligus pemilik Geoservis. Waktu itu kami sedang kuliah di Rumbai, saya dan teman-teman dari Duri berangkat setelah sahur dan Pak Ong berangkat dari Singapura sehari sebelumnya. Malam sebelumnya kami mestinya sudah sampai Rumbai, tetapi karena jalan macet kuliah diganti dengan video conference menggunakan VisCenter.

Saya cukup beruntung bisa ikut kuliah Pak Ong, yang menjadi satu-satunya perjumpaan kami di kelas. Karena setelah itu, kuliah Ekonomi Migas digantikan oleh Pak Chalid dan Bu Arti. Banyak pengetahuan yang saya peroleh di kelas itu, selain cerita-cerita nyata tentang dunia migas, juga pengalaman Pak Ong dalam merintis usahanya sepulang dari kuliah.

Namun, saya tidak akan menulis tentang itu di sini. Saya akan mencoba mengurai perlu atau tidaknya sekolah lagi setelah bekerja. Di kantorku, sekolah lagi tidak akan mempengaruhi jenjang kepangkatan seorang pegawai, artinya tidak ada penyesuaian golongan gaji setelah lulus kuliah lagi. Perusahaan, hanya menyelenggarakan program yang bekerja sama sdengan Universitas terkemuka, menyediakan bantuan beasiswa dengan prosentase tertentu, dan beban pekerjaan tidak berkurang. Kuliah dilakukan setiap akhir pekan, dua minggu sekali dan sekali persemester kuliah di kampus untuk memenuhi persyaratan 30 % jam kuliah di kampus.

Dengan model seperti itu, seorang pekerjaa yang sekaligus kuliah, waktunya akan tersita buat keduanya, bahkan tidak jarang waktu buat keluarga menjadi berkurang. Juga tambahan waktu kuliah dan mengerjakan tugas, membuat beban pekerja bertambah, belum lagi ongkos yang dikeluarkan cukup menguras ATM. Saya sempat berdiskusi dengan kakak kelas yang kesehatan menurun karena kesibukannya kuliah, dan perlu waktu agak lama untuk recovery.

Namun, dengan segala trade off di atas, sekolah sambil bekerja juga memiliki kelebihan. Antara lain tetap memperoleh penghasilan selama kuliah, karier tetap berjalan di pathwaynya ketika sedang kuliah dan tentu saja mendapat tambahan pengetahuan serta gelar kalau lulus. Yang tidak kalah berharganya, kesempatan kuliah hanya datang 4 tahun sekali, itu pun harus memenuhi persyaratan kampus seperti nilai toefl, TPA dan kompre tertentu.

Di samping model kuliah seperti diatas, yang disebut ESDP, beberapa orang teman memilih untuk mencari beasiswa ke luar negeri, biasanya ke Norway atau UK. Ada yang berangkat dengan failitas leave without pay, atau langsung resign. Beberapa teman dekat yang mengambil model ini, akhirnya resign juga dan bekerja di perusahaan minya di Eropa atau timur tengah. Sedangkan yang mengambil program ESDP akhirnya juga bertebaran di perusahaan-perusahaan minya internasional.

So, meskipun tidak berkaitan langsung dengan kenaikan gaji atau golongan, rasanya sekolah itu perlu. Ada benarnya juga pernyataan Pak Ong yang kukutip di depan.

Sudahkah Anda sekolah lagi? Kalau belum, marilah kita mencari opportunity untuk itu.

Duri, 5 Oktober 2011

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: