prosedur, perlukah diikuti?

October 1, 2011 at 3:54 pm | Posted in TOMoGrafi | 1 Comment

Siang ini, saya kembali melakukan travelling, tidak jauh memang cuman 3 jam perjalanan naik bus. Saya berangkat dari rumah jam setengah 9, dijemput taksi. Dak diantar ke terminal bus Chevron untuk naik bus antar distrik jam 9. Naik bus antar distrik ini relatif nyaman, tempat duduk 2-2, AC dan gratis tentu saja. Diperjalanan menuju Rumbai, biasanya singgah di Kandis untuk istirahat 15 menit dan ganti sopir.

O, iya, saya tidak akan berpanjang lebar cerita mengenai bus yang sudah terlalu biasa. Saya akan sedikit cerita tentan jalan macet yang sudah terlalu biasa, soalnya jalan lintas Sumatera itu jalan tunggal yang tidak beranak pinak seperti jalan-jalan aspal di Jawa, ketika ada kecelakaan atau hambatan lain masih ada jalan alternatif. Kebetulan, sekitar 1 km dari gerbang camp Minas, ada kendaraan yang melintang di jalan, sehingga lalu lintas macet total. Sementara di depan ada jalan simpang yang biasa digunakan untuk ke lapangan bisa menjadi jalan alternatif. Apakah bus yang saya tumpangi mengambil jalan simpang itu?

Dari sinilah permasalahan itu dimulai. Bagi sebagian besar, yang terdiri dari pegawai atau keluarganya, jalam terbaik adalah mengikuti jalan alternatif agar keluar dari kemacetan. Namun tidak demikian dengan awak bus, ada proswsdur yang harus diikuti, yang pertama adalah melapor ke dispatcher bus di Rumbai, melaporkan kondisi jalan dan meminta ijin untuk mengambil jalan alternatif. Ternyata, dispatcher pun tidak bisa memberikan keputusan, dia mesti melaporkan dan meminta ijin ke corep (company representatif). Seandianya corep mengijinkan, maka harus ada mobil security yang mengawal bus melewati jalan alternatif.

Ribet memang, sehingga membuat beberapa penumpang tidak sabar dan ingin berbicara langsung dengan corepnya. Prosedur itu memakan waktu lebih kurang setengah jam, namun belum ada keputusan. Beruntung aparat bekerja dengan sigap, mobil yang menghalangi jalan akhirnya bisa disingkirkan dan lalu lintas kembali lancar. Sayapun kemudian turun di Minas, karena ada teman menjemput dan mengajak makan siang di Pekanbaru.

Sambil menunggu jemputan teman, saya ngobrol-ngobrol dengan dispatcher Minas yang kebetulan kenalan lama. Dan juga memikirkan kejadian yang barusan dialami. Bagi kami penumpang, resiko yang diterima dalam keadaan macet hanya kehilangan waktu, sedangkan bagi awak bus melanggar prosedur pertaruhannya adalah karier, pekerjaan dimana keluarganya juga menggantungkan harapan. Prosedur, kadang menjemukan, dan memang harus diikuti. Kerugian waktu diakhir pekan yang santai mungkin tidak seberapa, tetapi resiko pekerjaan?

Salam macet!

Rumbai, 1 Oktober 2011

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Untuk hal2 tertentu prosedur mungkin bisa saja diabaikan mas,jika benar2 dalam keadaan genting.Kasus diatas memang pelik,mustinya ada Plan A Plan B dst.Ok yang penting selamat sampai tujuan ( dan semuapun senang ).Salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: