Apakah Mudik (lebih dari) Sekedar Pulang?

September 1, 2011 at 4:27 pm | Posted in TOMoGrafi | Leave a comment

Kemarin, untuk pertama kalinya semenjak menikah, saya sholat Ied di ndesa Ibunya Afa di Sleman, biasanya saya sholat Ied di rumah masa kecil saya, baru kemudian bergabung ke Sleman untuk mengikuti sowan ke para tetua keluarga besar.

Dalam rutinitas kami yang sebelumnya, selalu ada acara yang terlewatkan yang tidak bisa kami ikuti. Acara pertama ya tentu saja sholat Ied bersama keluarga istri, yang kedua takziah ke makam nenek dari Ibu, dan yang ketiga, yang paling penting ziarah ke makam kakek-nenek Ibunya Afa bersama keluarga besar. Di acara yang ketiga ini, selain ziarah kami memanjatkan doa bersama yang diikuti oleh trah mBah Zaini yang sudah tersebar ke beberapa kota. Mereka meluangkan atau mengkhususkan waktu untuk kembali menengok petilasan leluhur mereka, mudik, sambil mengeratkan tali persaudaraan yang selama ini terpisahkan jarak dan kesempatan.

Selain ketiga acara yang sering kami lewatkan di atas, acara yang tidak kalah menariknya adalah ujung ke salah satu sesepuh di Plotengan. Selain ujung, kami biasanya dijamu dengan opor bebek buatan ‘simbah’. Opor bebek ini menjadi salah satu jamuan khas yang tidak bisa tergantikan, bahkan ketika mBah Nyo, adik dari Kakek istriku berpulang, kebiasaan ini masih dilanjutkan oleh putrinya.

Sepulang dari Plotengan, sore harinya kami berkeliling ndesa untuk sowan kepada para tetangga, ujung. Biasanya kami berada dalam rombongan keluarga besar bersama mertua dan ipar, bapak mertua yang menjadi kepala rombongan yang akan mewakili kami. Namun, kadang-kadang beliau berhalangan, dan saya yang harus menggantikannya. Ketika ujung, biasanya kata-kata berikut ini yang disampaikan, “Kepareng matur dhumateng Pak Dhe/ Simbah sakulawarga, sowan kula mriki ingkang sepindah ngaturaken sungkem pangabektos, kaping kalihipun ngaturaken sugeng riyadi, sedaya kalepatan nyuwun agunging samodra pangaksami, kaping tiganipun nyuwun tambahing berkah pangestu, mugi-mugi sedaya gegayuhan kula sakularga saged kasembadan”. Dan setelah dibalas oleh pemilik rumah, kami pun dipersilahkan menikmati makanan yang tersaji di meja.

Lebaran belum usai ketika kami selesai bekeliling kampung selama satu dua hari, karena hari-hari berikutnya jadual untuk sowan ke Pak Dhe-Budhe yang lain sudah menunggu. Capek dan memakan waktu memang, namun mungkin ini adalah sedikit cara dari kami yang terlahir dan dibesarkan sebagai orang-orang Jawa untuk menjaga bebrayan ageng, keluarga besar.

Saya yakin, mudik bukan hanya sekedar pulang libur panjang. Ada nilai-nilai yang pantas untuk ditebus dengan bermacet-macet di jalan atau membayar tiket lebih mahal dari biasanya.
O, iya bagaimana dengan acara lebaran di keluarga Mas-mBak sekalian?

Salam Mudik!

Sleman , 2 Syawal 1432 H

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: