Menjadi Pengungsi

November 6, 2010 at 10:35 am | Posted in TOMoGrafi | 4 Comments

Menjadi Pengungsi

Rabu malam, saya masih berkomunikasi intensif dengan beberapa orang teman di lapangan, dengan Irfan, dengan Nawa dan dengan Mas Agus Cethok. Selama ini saya menjadi teman diskusi dan melihat krisis Merapi dari sisi saya dan mereka memberikan perkembangan Merapi di lapangan. Tiba-tiba saya mendapat sms dari Nawa yang berisi analisis kondisi geger boyo, yang memungkinkan radius aman diperluas menjadi 21 km.

Saya pun kemudian meminta istri saya untuk menyiapkan evakuasi ke daerah >20 km malam itu  juga, tanpa menunggu pengumuman dari BPTK. Alasannya daerah tempat tinggal kami hanya 15,5 km dari Merapi, di batas luar 15 km yang diberlakukan BPTK saat itu dan di rumah ada 3 orang anak kecil. Hal ini tentu juga mempertimbangkan perkembangan Merapi yang saya ketahui dari berbagai sumber, sumber2 resmi, teman2 di lapangan dan referensi JVGR vol 100. Setelah bernegosiasi alot dengan Eyangnya Afa, akhirnya Kamis dinihari akhirnya mengungsi, alternatifnya rumah Sendowo atau rumah Klaten. Namun karena sudah jam 12.30, akhirnya diputuskan ke rumah Gendol di selatan Tempel.

Rencananya, kalau malam itu tidak ada peningkatan aktivitas Merapi kembali ke rumah Turi. Namun ketika kembali, kamis pagi Merapi menunjukkan peningkatan aktivitas yang significant, sehingga akhirnya boyongan ke rumah Sendowo. Afa masih sekolah di BMD dan kunjungan ke Taman Pintar, Luki menunggu di rumah Sendowo bersama Ibukku dan Ibunya Afa mengajar di FKG UGM. Sore harinya, karena melihat kemungkinan adanya banjir lahar dingin di Sungai Code dan memperhatikan lokasi rumah Sendowo yang dekat sungai maka memutuskan untuk mencari penginapan yang di atas, Sejak malam Jum’at Afa, Luki dan Ibunya benar-benar menjadi pengungsi bukan di rumah sendiri.

Malam Jum’at, saya tidur agak awal, biasanya jam setengah 2 jam 10 saya sudah tidur. Tapi tengah malam saya terbangun karena berita di MetroTV yang menyebutkan Merapi meletus besar. Beruntung kami sudah keluar dari radius 20 km semalam sebelumnya, bayangkan seandainya kami masih di dalam radius 20 km dan harus melakukan evakuasi tengah malam dengan 3 orang bayi dan seorang anak kecil, dan belum tentu sedang melihat pengumumanPVBMG di saluran televisi. Terbayang kepanikan yang terjadi seandainya belum meninggalkan rumah Turi saat itu.

Hari ini, menjadi hari yang keempat Afa, Luki, Ibunya dan keluarga besar kami menjadi pengungsi. Meskipun menjadi pengungsi kami tetap beruntung karena masih bisa memilih tempat tinggal sementara, dan membuat anak-anak kami seolah-olah sedang tidak menjadi pengungsi, hanya sedang pindah tempat. Aktivitas masih berlangsung seperti biasa, Afa masih suka menggambar, Luki aktvitasnya masih normal. Entah sampai kapan jadi pengungsi, kami melihat perkembangan hari per hari dan masih menimbang-nimbang pilihan yang ada. [kom10]



4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. salam kenal, kunjungan balik ditunggu di sini http://ramlannarie.wordpress.com/ dan http://ramlannarie.blogspot.com/

  2. Hi mas tomo. Kita dulu satu kos di Karangmalang C20. Saya kakaknya Agung, saya menemukan akun Anda di milist bencana. Sekarang, saya bekerja di Jogja. Senang bisa menemukan jejak Anda.

  3. Terus nulis mas.
    Wis suwe ra diisi blog iki.

    Hehehe..spesialis di kuliner online sih

    salam sehati

  4. salam kenal mas,ini kunjungan pertama saya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: