Perlukah Museum Monumental “Virtual” Gempa?

October 22, 2009 at 9:49 pm | Posted in TOMoGrafi | Leave a comment
Tags: , ,

Perlukah Museum Monumental “Virtual” Gempa?

Kemarin, Mas Anif Punto, alumni GeoUGM yang menjadi wartawan Republika, memposting tulisan Bu Dwikorita mengenai Perlunya Museum Monumental Gempa. Tulisan Bu Dwi Korita itu di muat http://www.republika.co.id/koran/42/83730/Perlunya_Museum_Monumental_Gempa

Dalam tulisan tersebut, beliau antara lain menuliskan keprihatian sebagai berikut:” Belum adanya museum monumental ini cukup memprihatinkan, bahkan mengkhawatirkan bagi kepentingan pembelajaran masyarakat untuk siap bencana. Dalam kurun waktu puluhan tahun, masyarakat kita cenderung mudah melupakan kejadian gempa dan dampaknya. Bahkan anak cucu kita mungkin sama sekali tidak bisa lagi membayangkan kejadian gempa bumi tersebut dan dampaknya.”

Mas Agus Hendratno, staff  pengajar di jurusan teknik geologi UGM, yang juga concern dengan masalah bencana alam, mengamini ide Bu Dwikorita, berikut ini tanggapan dari Mas Agus Hendratno, :” Ide yang sangat baik. Untuk Museum Monumental Tsunami sudah dibangun di Aceh, dengan cagar hasil lemparan gelombang tsunami yaitu : kapal PTLD. Untuk gempa Bantul – Klaten 2006 kemarin hanya berupa “tugu peringatan gempa” yang disebut sebagai “Tugu Monumen Lindu Gede” di Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, Klaten. Hanya Tugu Monumen Lindu Gede tsb belum mencukupi sebagaimana “museum monumental gempa” yang dibayangkan bu rita. Yang digagas bu rita tsb pernah muncul di ranah beberapa LSM Pengurangan Resiko Bencana di Gantiwarno, Klaten yang akan mencagar rumah penduduk yang roboh, tapi tidak cukup kuat karena tarik ulur ganti rugi rumah yang akan dicagar tsb. Akhirnya cukup dibangunkan Tugu Lindu Gede di Sengon, Prambanan, Klaten.”

Saya, kemudian ikut nimbrung dengan ide yang sederhana, untuk menanggapi tulisan Mas Agus Hendratno tersebut, Quote:”Mas Gus Hen, bagaimana kalau monumen virtual? ke depannya kan bakal banyak masyarakat yang mengakses informasi online…”.

Meskipun ide saya sederhana, ternyata ada dua tanggapan yang relevan, yang pertama ada tanggapan langsung dari Mas Agus Hendratno. Berikut petikan email beliau,: ” Kang Tomo, itu juga bagian dari monumen, saya sangat setuju. Hanya permasalahannya masyarakat korban bencana-bencana merusak saat ini jauh dari jangkauan IT. Sehingga metode pembelajaran publik harus dibedakan, karena masih ada yang belum melek IT atau “melek virtual”. Tapi bagi pengambil keputusan dimana saja, monumen virtual tentang bencana geologi yang merusak selama ini, adalah sangat penting dan strategis, itu juga bagian dari penetrasi Earth System Governance dalam sistem birokrasi ke depan. Minggu depan materi Earth System Governance akan kami ajarkan kepada seluruh birokrasi se Jawa Timur di Pasuruan (ada pejabat Pemprov Jatim memberi kesempatan saya untuk mendiskusikan hal tersebut..) Mohon maaf sedikit saya buka…, karena ini bagian dari edukasi publik atau “kampanye birokrasi sadar earth system dalam keputusan politiknya” ke depan. Paling tidak memulai dari yang paling sederhana dulu…(orang lain bisa jadi ini adalah “ecek-ecek”..ndak apa-apa..ikhlas saja.).., hasilnya Wallahu ‘alam bissowab…”

Dari tulisan di atas, Mas Agus kayaknya setuju dengan ide monumen virtual, bahkan menurutnya sangat penting dan strategis bagi para  pengambil kebijakan.

Sedangkan satu tanggapan yang lain, cukup membuat surprise karena datang dari Mas Rovicky, yang menurut saya sudah membuat monumen virtual dari beberapa bencana alam yang menimpa Indonesia beberapa waktu terakhir. Blog beliau,  Dongeng Geologi adalah salah satu monumen virtual yang merekam dan menganalisa gempa Jogja, juga gempa Aceh, lumpur sidoarjo dan gempa-gempa yang lain. Blog beliau  bisa mengedukasi masyarakat pengguna  internet selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu dan  365 hari pertahun🙂.

Berikut petikan email Mas Rovicky :  “Sakbenere idenya Komo ini suangat brilliant !
Kita seringkali ngga ngerti apa maksud si monumen itu dibuat. Tugu di Jogja sakjane dibuat sebagai peringatan kebencanaan. Namun karena kita tidak mampu “membaca” maka kitapun lupa akan pesan dari si monumen itu. Pesan itu dibuat dengan bahasa wektu itu saja.
Mas Komo sudah memiliki ilmu “ngerti sakdurunge winarah” atau ilmu masa depan. Gempa merupakan bencana yang “langka” terjadi di Jawa ini. Kalau melihat jeda antar satu gempa dengan gempa yang lain 30-50 tahun. Dimana cara “membaca” peninggalannya juga sudah susah dimengerti. Sehingga mengakibatkan benca itu terulang karena merasa tidak memiliki pesan. Monumen sudah dianggap sebagai bahan kajian arkeologi saja. Bukan sebagai peringatan tanda waspada.
Salute Mas Komo … anda berpikir buat cucu cicit yang mungkin 40-50 tahun lagi membaca “tetenger” monumenmu di belantara maya (virtual). Yang saya kira akan menjadi monumen yang lebih mudah dibaca di masa depan ketimbang bangunan gedung roboh yang susah “dibaca”.

Saya merasa tersanjung sekaligus tertampar dipuji oleh Mas Rovicky, karena saya hanya melontarkan ide mengenai monumen virtual dan Mas Rovicky sendiri sudah memulainya beberapa tahun yang lalu. Ide saya mengenai monumen virtual itu pun salah satunya karena melihat betapa efektinya blog Mas Rovicky dalam mengedukasi  masyarakat kita mengenai bencana geologi. Blog tersebut menjadi rujukan bukan hanya oleh pribadi-pribadi yang peduli dengan bencana alam, namun  juga menjadi rujukan beberapa  media masa. IAGI, bahkan pernah memberikan penghargaan kepada beliau saat munas di Pekanbaru.

Tadi sore, saya juga sempat chating sebentar dengan Mas Rovicky, berikut petikan diskusi kami
Rovicky: ide brilliant dengan virtual monument mu !
me      : matur nuwun Mas… kayake monumen virtual lebih abadi.. dan sudah dirintis dengan blognya Mas Rovicky yang dongeng geologi itu
Rovicky: paling tidak bukan hanya kajian sejarah saja.  hahahah kau tau juga kah ?
me      : tahu apa Mas? ketika kita menulis apa yang terjadi saat ini, mungkin itu bagian dari sejarah yang bermanfaat bagi generasi mendatang.
Rovicky: tahu kalau aku mengarah kedepan ya … makanya aku lebih suka menuliskan di blog ketimbang koran
me      : lah koran akan segera terlupakan…
Rovicky: hihihhi
me      : kalau di virtual itu generasi mendatang masih bisa membaca.. dan itu bagian dari knowledge management yang tidak banyak disadari orang. knowledge managemenet dan transfer knowledge sekaligus.
Rovicky: hiya mo … jarang yg berpikir kedepan … jauuuh.  kesadaran temporal itu emang langka rupanya …:P
kronologis maneh.
me       : lah geologist kan mestinya sadar ruang dan waktu…

Ternyata, Mas Rovicky mengapresiasi ide monumen virtual itu karena menurut beliau monumen virtual akan memenuhi kebutuhan di masa mendatang, bukan hanya kebutuhan saat ini. Karena beberapa monumen  yang dibuat di masa lalu,  kadang hanya tinggal menjadi sebuah bagian sejarah,  sedangkan pesan utamanya terlupakan. Sedangkan pertimbangan saya, monumen virtual akan lebih abadi, dibaca oleh banyak orang pesannya, tersebar luas, bisa sebagai knowledge management sekaligus knowledge transfer.  Dari sisi biaya relatif tidak mahal, dan bisa mengikuti perkembangan teknologi, dan bisa jadi media sharing dengan ahli  lain yang berkompeten.

Saat ini, Mas Rovicky sudah memulai dengan Dongeng Geologi-nya, apakah akan diikuti oleh geologist yang lain? Tidak mudah memang, dan sangat mungkin untuk dilakukan, membuat Monumen “Virtual” Gempa yang mungkin kita butuhkan. [kom1009]

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: