Berutang sesuai Rasio dan Aturan Main

September 6, 2009 at 7:55 am | Posted in Keuangan Keluarga | 2 Comments
Tags: , , , , , , , ,

Berutang sesuai Rasio dan Aturan Main

Bulan ini saya mulai membayar angsuran untuk pinjaman di bank yang saya gunakan untuk membeli tanah. Angsuran ini dipotong langsung dari rekening bank mandiri saya dan menambah beban angsuran sebelumnya untuk kredit kepemilikan mobil.  Sampai saat ini, utang terbesar saya adalah utang untuk membeli tanah dan membeli mobil, yang keduanya saya lakukan dalam rentang waktu 1,5 tahun dengan lama utang 5 dan 4 tahun.

Menurut Adler H Manurung ada beberapa aturan main dalam berutang, antara lain:
1. Rasio utang dengan penghasilan
2. Rasio utang terhadap total aset
3. Rasio penghasilan bersih terhadap pembayaran utang.

DebttoIncome-main_FullPerbandingan Utang dengan Penghasilan
Sumber: ehow

Saya akan mencoba membuat financial check up terhadap kondisi keuangan dan utang-utang saya menggunakan aturan main di atas dalam tulisan saya di bawah ini, hasilnya nanti akan saya gunakan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dan merubah strategi agar sesuai dengan aturan main yang ada.

1. Rasio utang dengan penghasilan
Secara teori, total utang tidak boleh lebih besar dari 35% penghasilan utama keluarga. Saat ini, kedua angsuran utang yang mengambil 29% dari penghasilan saya, relatif besar tapi masih sedikit di bawah jumlah maksimal yang disarankan. Hal ini menjadi sinyal awal agar saya tidak menambah utang lagi dalam waktu dekat, dan itu mungkin yang akan saya lakukan agar saya tidak mengalami kesulitan dalam membayar angsuran utang.

2. Rasio utang terhadap total aset
Rasio utang dengan mudah dikalkulasikan dengan membagi total utang dengan total aset. Saat ini, aset utama saya berupa tanah, tabungan pensiun, mobil dan tabungan pegawai. Rasio utang saya terhadap total aset sekitar 0.45, lebih kecil dari 1, utang saya lebih kecil dari nilai aset yang saya miliki. Hal ini mengindikasikan saya tidak kesulita dalam mengangsur utang dan terhindar dari kebangkrutan.

3. Rasio penghasilan bersih terhadap pembayaran utang
Rasio untuk mengukur kemampuan mengendalikan utang tidak hanya bergantung pada banyaknya aset, tetapi juga pada penghasilan bersih. Secara teori rasio ini minamal 2, dan rasio penghasilan bersih terhadap pembayaran utang saya 3,5 masih di atas batas minimal. Hal ini mengindikasikan kemampuan membayar utang saya relatif baik.

Dari ketiga rasio dan aturan main di atas, terlihat bahwa saya masih berada pada rasio dan aturan main yang disarankan, saya mempunyai kemampuan membayar utang dengan baik dan memiliki aset yang lebih besar daripada jumlah utang. Hanya rasio utang terhadap penghasilan yang mendekati ambang batas atas yang perlu menjadi perhatian saya agar tidak mengambil utang lagi dalam waktu dekat.

Sedangkan menurut safir Senduk, dalam bukunya Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya, ada beberapa kiat dalam melakukan utang, yaitu:
1. Ketahui kapan sebaiknya berutang dan kapan tidak berutang
2. Kuasai tip yang diperlukan bila Anda ingin mengambil utang atau membeli barang secara kredit
3. Kuasai tip yang diperlukan bila pada saat ini Anda telanjur memiliki utang.

Point nomer 1 dan 2 sudah saya kupas di tulisan sebelumnyaUtang-utang yang Dibutuhkan, sedangkan point nomer 3 terdiri dari:
a. Tinjau kembali kemampuan Anda membayar angsuran
b. Jalin hubungan dengan si pemberi utang
c. Kadang-kadang, tidak apa-apa melakukan gali lubang dan tutup lubang.

Saya berada pada kondisi sudah telanjur memiliki atau memilih untuk mempunyai utang. Saya juga sudah meninjaukemampuan membayar utang, dan sesuai dengan tulisan di awal saya mempunyai kemampuan membayar utang yang relatif baik. Hubungan saya dengan pemberi piutang juga relatif baik. Hanya saya belum pernah melaukan gali lubang tutup lubang. [kom]

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Dhe Komo.,hal yang terberat ialah pada waktu kita harus membayar utang, seberapa kecil, pastilah akan terasa besar dan “eman-eman”😀

    Mungkin belum mencapai 35%, baru 29%…namun apakah itu tidak besar?
    menurutku itu jumlah yang besar.
    sisa penghasilan kita = 71%.
    apakah nominal 71% tersebut telah mengkover semua kebutuhan bulanan?termasuk 20% yang tidak boleh diutak atik (tung desem)

    mungkin hal tersebut akan menjadi lebih ringan jika, tanah tersebut bisa langsung menghasilkan, jadi tanah tersebut bisa membayar dirinya sendiri. jadi hal tersebut akan meringankan beban kita. iyakan Dhe?

    kalau ga salah, dalam bukunya purdi e candra, ketika kita membeli properti, maka properti tersebut haruslah produktif dan mempunyai nilai jual lebih😀

    contoh : kita utang 10 IDR dari bank A utk membeli properti (tanah), kita juga harus melihat harga tanah tsb kedepannya gimana (baca:letaknya strategis).
    ketika mau jatuh tempo pada bank A, maka kita bisa mengambil utang ke bank B dengan jaminan tanah yang kita beli tsb. bank B pasti akan mengestimasi harga tanah tsb. okelah bank B berani memberi pinjaman 20 IDR. dana dari bank B dpat kita pakai utk melunasi pinjaman dari bank A. dan kita masi mempunyai sisa untuk mengembangkan usaha berikutnya.

    jadi langkah dhe Komo telah sesuai jalur, namun apakah tanah tersebut sudah menghasilkan atau setidaknya letaknya setrategis, diharapkan ketika kita berutang di bank laen, maka bank trsebut berani memberi kucuran dana yang lebih besar daripada harga tanah tsb.

    apakah dhe Komo berani untuk gali lubang tutup lubang?(ths)

  2. Mas Tomo,Menurut pengalaman saya, hutang di Bank itu mulia, tapi kalo ngutang jangan sedikit, ya.. minimal Rp.750 juta. Beli aset tidak harus punya uang cash bahkan saya pernah melakukan beli Ruko tanpa uang malah dapat uang..! tapi ingat..! JANGAN PERNAH NGUTANG KALO TIDAK UNTUK USAHA, JANGAN PERNAH BIKIN USAHA KALO UANGNYA BUKAN DARI NGUTANG.Ngutang beli aset itu BAGUS, tapi akan lebih bagus lagi kalau yang bayar cicilan HUTANG itu adalah ASET itu sendiri (bukan dari potong penghasilan/gaji kita).Kalo saya ngutang di bank memang tidak bisa potong gaji (karna saya bukan orang gajian), sekarang aktifitas sehari-hari saya adalah menggaji orang karena saya memilih jalur jadi PENGUSAHA (ENTREPRENEUR), repotnya jd pengusaha kalau mendekati lebaran seperti ini karena HARUS MEMBERI THR KARYAWAN dalam jumlah yang sangat BESAARR..! sekarang saya punya 57 karyawan (bayangkan aja dana yang harus dikeluarkan untuk TTHR-nya)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: