Biaya pendidikan anak

August 11, 2009 at 4:06 pm | Posted in TOMoGrafi | 2 Comments
Tags: , , , , ,

Biaya pendidikan anak

“Professionals and the institutions in which they work tend to define an activity,
in this case learning, as a commodity (education),
‘whose production they monopolize, whose distribution they restrict,
and whose price they raise beyond the purse of ordinary people and nowadays,
all governments’ (Lister in Illich 1976: 8).”

Beberapa waktu yang lalu, saya berdiskusi dengan Mas Rovicky tentang biaya pendidikan anak di milis kampung-UGM . Mas Rovicky menanyakan kepadaku sbb: “Mo kalau memang konsen dengan pendidikan anak, berapa persen dari pendapatanmu kau keluarkan untuk pendidikan anak-anak ? Masih inget tulisan dibawah ini ? http://rovicky.wordpress.com/2007/07/14/kok-pelit/

Saya pun kemudian menjawab sebagai berikut.

Kalau untuk biaya pendidikan anak yang dikeluarkan sekarang, rasanya tidak terlalu besar, karena anakku masih satu dan TK yang biayanya tidak terlalu mahal.  Saat ini pengeluaran rutin untuk spp hanya sekitar 225K, uang masuk sekitar 3jt-an [dan masih bisa dicicil 3 xlagi]. Kebutuhan yang lain, masuk alokasi budget RT, seperti beli buku bacaan di gramed 1 X tiap bulan [sekitar 300-400K habisnya], bensin untuk nganter sekolah dsb2.

100_5007Suasana Kelas

Yang mungkin relatif besar alokasinya adalah biaya pendidikan di masa yang akan datang. Ada tiga skema yang saya persiapkan, eh kami persiapkan untuk biaya pendidikan mbesok-mbesoknya a.l:

1. Saving plan, ini aslinya program company tempat saya bekerja. Skemanya, saya dipotong gaji pokok saya 10% dan company menambahkan 6%, dan company kemudian menaruh uang itu dalam bentuk tabungan dollar.

2. Asuransi pendidikan, kebetulan dulu pas Afa umur 6 bulan bikin di takaful, preminya sekitar 1,2% perbulan dari salary ku [sekarang].

3. Tabungan pendidikan, kemarin pas ulang tahun Afa yang ke-4, saya bikinkan dia tabungan pendidikan di Axa, preminya sekitar 2,5 % dari salary ku [sekarang]. Total dari ketiganya, saya mengalokasikan sekitar 13,7% dari pendapatan saya untuk biaya pendidikan anak saya dan company nambahi 6% [ini salah satu yang bikin istri saya seneng aku kerja di company sekarang].

Point ke 2 dan 3 akan bertambah saat Afa punya adik. Mungkin prosentasenya ketiganya relatif lebih kecil dari prosentase alokasi APBN untuk pendidikan.

Ada pengalaman menarik ketika saya telpon Afa beberapa waktu lalu, dia bilang umurnya dah 4 [tahun] dan mau masuk TK, dia bilang punya uang untuk mbayar sekolahnya. Soalnya dai habis mengambil tabungan di playgrouspnya yang jumlahnya relatif significant dibanding biaya masuk TK. Ternyata, waktu play groups yang seminggu masuk 3X, dia dibiasakan Ibunya nabung 20 ribu setiap kali masuk, dan ketika dia selesai playgroups-nya jumlah tabungannya relatif besar.

Sedangkan Mas Rovicky sendiri, mengalokasikan budget yang cukup besar untuk sekolah putra-putranya. Menurut Mas Rovicky, alokasi budget beliau untuk pendidikan anak-anaknya lebih kurang 15-20% dari total income-nya, karena putra-putra beliau sudah di universitas dan sekolah menengah [sekolah internasional]. Menurut saya, dibandingkan orangtua-orangtua kami, nominal uang yang kami keluarkan relatif lebih besar, namun kalau kita menggunakan perbandingan antara alokasi biaya pendidikan dibandingkan dengan pendapatan, prosentase orang-orangtua kami jauh lebih besar. Hal ini diamini oleh Mas Rovicky, begitu juga dengan saya.

Belajar dari pengalaman orangtua kami mengenai pendidikan, saat ini pendidikan yang baik menjadi salah satu concern saya. Yang sudah saya lakukan antara lain, memilihkan sekolah yang mendukung buat perkembangan anak dan menyiapkan budget serta sarana pendukungnya. [kom]

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Wah, tulisan yang bagus. Pencerahan khi… Matur syukron.
    Kalo aku kayaknya sekitar seperenam dari total income kami berdua dialokasikan untuk pendidikan Aulia. Hmm… tapi alokasi yang tak kalah penting ya alokasi waktu untuk anak. Walopun dikit yang penting interaksi ortu-anak harus berkualitas. Dan itu bagian dari “saving” jariyah. Tul nggak, Mo?

  2. Bagaimana dengan orang tua yang pendapatannya pas-pasan atau untuk biaya hidup sehari-hari pun kurang? Ada saran untuk mengatasi biaya pendidikan yang kian tinggi? selain meminta anaknya belajar lebih rajin agar mendapat beasiswa?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: