Haruskah Kiki pergi ke Panti Asuhan untuk [bisa] Sekolah

August 4, 2008 at 3:33 pm | Posted in Tarian Jemari | 10 Comments

Haruskah Kiki pergi ke Panti Asuhan untuk [bisa] Sekolah
Sebuah catatan awal tahun ajaran baru untuk Bupati dan Kakandepdiknas Kab.Magelang

Mempunyai anak yang cerdas dengan nilai UAN yang bagus, merupakan impian dan kebanggaan bagi sebagian besar orang tua murid. Demi mendapatkan sekolah yang bagus, orangtua murid rela meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan uang agar anaknya bisa memperoleh pendidikan dengan kualitas terbaik. Di sekolah terbaik, mereka berharap anaknya bisa merajut impian akan masa depan yang lebih baik.

Namun, mendapatkan sekolah terbaik seperti yang diharapkan, tidak dirasakan oleh Kiki, seorang gadis kecil dari dusun Sanggrahan, Desa Banyubiru Kec. Dukun Kabupaten Magelang. Dengan nilai 28-an dari 3 mata pelajaran, dia berharap banyak bisa masuk ke sekolah impiannya, SMP Negeri 1 Dukun, tempat di mana Bulik dan kakak2-nya menamatkan sekolahnya. Sayang, impian itu kandas, bukan karena nilainya tidak masuk kualifikasi, hanya semata karena Bulik dan kakaknya tidak bisa membayar tunai uang seragam dan mengangsur uang bangunan yang totalnya sebesar Rp. 850.000,00. Ironis, mereka tidak minta gratis untuk kedua hal itu, hanya minta keringanan untuk mengangsurnya, dan sialnya pihak sekolah tidak mempunyai kelapangan hati dan kebesaran jiwa untuk mengabulkannya.

Sebuah tragedi bagi dunia pendidikan di saat pemerintah sudah 10 tahun mencanangkan wajib belajar 9 tahun, dan saat beberapa daerah mencanangkan pendidikan gratis, seorang anak tidak bisa masuk sekolah karena tidak bisa mengangsur uang seragam dan bangunan sekolahnya.

Kiki, gadis kecil yang belum beruntung itu, merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Sejak kecil dia ikut keluarga Buliknya di Sanggrahan, dan tinggal di rumah kecil yang sangat sederhana, tidak jauh dari masjid desa. Buliknya ibu rumah tangga biasa, sementara Pakliknya mencari nafkah dengan berjualan makanan kecil disekolah, kadang di bulan puasa berjualan ikan cupang dan jangkrik. Buliknya juga mempunyai dua orang anak yang masih sekolah di SD. Mungkin, salah satu penyebab Buliknya tidak bisa membayar tunai uang seragam dan mengangsur uang bangunan Kiki karena dia juga harus membayar biaya daftar ulang sekolah kedua anaknya, dan dia berharap bisa mengangsur uang itu seperti dulu waktu menyekolahkan kakak-kakak Kiki.

Setelah gagal masuk SMP Negeri 1 Dukun, satu-satunya alternatif bagi Kiki untuk melanjutkan sekolah adalah menitipkannya ke Panti Asuhan, dan memberi kepercayaan kepada Panti Asuhan itu untuk mencarikan sekolah. Biasanya, keluarga Buliknya, menitipkan Kakak-kakak Kiki ke Panti Asuhan setelah tamat dari SMP, namun Kiki harus menjalani lebih cepat karena kesempatan dia untuk sekolah negeri di dekat rumahnya sudah kandas. Kiki, akhirnya masuk ke Panti Asuhan Aisyiah, dan didaftarkan ke SMP Muhammadiyah Mungkid.

Saya mengetahui kisah Kiki ini dari email istri saya, seorang dosen di UGM Jogja pada tanggal 14 Juli. Istri saya mendengar kisahnya dari Dini, kakak Kiki yang sudah setahun ikut keluarga kami, menjadi pengasuh anak kami [cerita tentang Dini silahkan baca di https://sulastama.wordpress.com/2008/07/09/dini-akan-sekolah-lagi/ ]

Berikut petikan email istri saya:
“From: rini puspita [mailto:afa_garden@yahoo.com]
Sent: Monday, July 14, 2008 1:07 PM
To: Raharja, Sulastama [ RSulastama@chevron.com ]
Subject: dini sekolah

boleh juga tulisannya…

pas tanggal 10 juli kemarin yang dini pulang mo daftar ulang adiknya, ternyata ada cerita lagi. Adiknya dini (kiki) tu adik tiri (dari ayah berbeda)..yang baru lulus SD kemarin sekarang masuk SMP dengan nilai 28,.. aku lupa. Ternyata dia masuk ke Panti Asuhan karena mo masuk SMP yang sama dengan Dini (SMP 1 Dukun) ga bisa karena uang pembayarannya ga bisa dicicil alias harus kontan sebanyak 850 rb.dan buliknya ga punya uang sebanyak itu. jadi adiknya msuk panti asuhan agar bisa sekolah SMP. Sebelumnya dini pernah sms mo minta tolong trnasfer 50 rb ke kakaknya untuk biaya kakaknya kerja di batam, karena dia ga punya uang tinggal 200rb untuk bayar sekolah adiknya tapi ternyata ga bisa dicicil itu.”

“Lemas aku….”, sebuah email singkat saya tulis kepada senior-senior yang saya Mas Rovicky, Mas Abdul Latif dan sahabat saya Intan KD, disertai lampiran email istriku. Respon positif langsung diberikan oleh Mas Rovicky dan Mas Abdul Latif, “Kasih tahu apa yang bisa saya Bantu, Mo” tulis mereka. Begitu juga Intan sahabatku, yang kebetulan mengelola beasiswa La Taahzan dan KLP Peduli.

Saya lemas, karena tahunya terlambat, tidak banyak yang bisa kami lakukan. Dini pulang ke rumahnya tanggal 10 Juli 2008 hanya dengan membawa uang 200 ribu, setelah dia mendaftar ulang di SMU N 1 Sleman, dan Buliknya juga tidak memberitahu dia [dan kami] kalau perlu uang 850 ribu rupiah, mungkin sungkan akan merepotkan kami [lagi]. Kesempatan emas terlewat begitu saja.

Ketika menulis catatan ini, saya tidak sedang berharap agar Kiki dikasihani, tidak.. bukan, bukan itu. Mengasihani orang kurang mampu hanya akan mengoyak harga diri mereka. Seperti juga dulu Pak Sudjarwadi [sekarang rektor UGM], menjawab pertanyaanku tentang kenapa UGM menjadi sekolah mahal. Saat itu, beliau berkata, “Mahasiswa kurang mampu bisa mencari pinjaman kepada saudaranya, dan ketika kuliah mereka sambil bekerja untuk melunasi pinjamannya”.

Ya saya sedang berharap, meskipun kecil, beliau-beliau yang berwenang mengambil kebijakan di Bidang Pendidikan ataupun di Bidang Pemerintahan di Kabupaten Magelang sempat membaca catatan kecil ini. Atau kalaupun beliau-beliau tidak sempat membacanya ada saudara-saudara lain yang berkenan menyampaikan kepada beliau satu permintaan kecil.

Permintaan kecil saya hanyalah” Tolong, beri pinjaman kesempatan lagi kepada Kiki [dan “Kiki-Kiki” lainnya] untuk mendapatkan sekolah terbaik seperti yang mereka idam-idamkan tanpa harus menghuni Panti Asuhan. Mudah-mudahan mereka akan membayarnya dengan belajar keras menyelesaikan sekolah dengan baik, dan membayar uangnya dengan kerja keras dan doa seluruh anggota keluarga. Kiki, meskipun tidak ada pertalian darah dengan Anda, mungkin tetaplah kerabat Anda, karena dia lahir dan besar di tempat Anda memegang amanah kekuasaan. Dan sebagai pemegang kekuasaan dan kebijakan, Andalah yang paling layak untuk memberikan pinjaman kesempatan itu.”

Mutiara 206 Duri, 16 Juli 2008

10 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Pendidikan: mendidik akal dan budi pekerti.

    Hm…apa yang bisa diharapkan dari “pendidikan” yang diberikan oleh institusi yang tidak berbudi pekerti?

    Mungkin kiki beruntung….dia selamat dari “pendidikan” yang hanya memikirkan duit🙂

  2. sepertinya kasus seperti ini banyak dan sering terjadi. hmm… jadi mikir lagi.

  3. Omm komo tak tanggapi keluh kesahmu….pancen ngene iki konco-koncone awaedewe terutama si haris, suprex, gede juga sitik nek iki, nek masalah mangan2 wowww langsung podo nyahut, neng endi..neng endi..aku melu…melu….pas giliran sampeyan menyampaikan uneg-uneg nggak ono sing naggapi podo sepi….ngemeng-ngemeng sing digawe conto kok wong magelang kabupaten dukun ora wong klaten opo bayat ngono opo wong kabupaten semarang khan akeh juga, wah isin aku dadi bupatine, engko tunggu pirang tahun maneh lah tak nyalon dadi bupati biar bisa mengentaskan kayak si kiki-kiki yang lainnya……(nek kiki fatmala juga boleh dientaskan juga)….

  4. Wong magelang C.Q. mBlondo wae ora peduli karo Panti Asuhan neng daerah-e, opo meneh wong lain kota….!!!
    Kalau kami2 yang sudah lebih lama di Jakarta ini juga peduli dengan Panti Pijit yang ada di Jakarta…..!!!
    Ad, kowe milih dadi wong mBlondo yang harus peduli dengan Panti Asuhan di Magelang opo dadi wong Jakarta sing sangat peduli dengan Panti Pijit…???

  5. Nanggapi keluh kesah, ngalor ngidul ora ono isine. Malah nggedabrus tekan kiki fatmala, cut keke, cut tari. Ora kapok po kowe om komo…. nek ngomong karo fuad tentang “sumbangan, keikhlasan, perjamuan, iuran beasiswa dll” mesthi mung gembar-gembor thok….

  6. Fuad ki tak kiro arep ngejak Komo nyumbang.
    keluh kesah panti asuhan gur ditanggapi kiki fatmala :)))

  7. paling gak sudah ada niat bantu de…tapi nunggu jadi bupati dulu…

  8. niat khan sudah dapet pahala Maryon…..nek nyumbang ikhlas ki jangan sampai “tangan kiri” tahu apa yang dilakukan oleh tangan kanan (kuwi jarene pelajaran agama disik sing wis tau tak pelajari), nek panti asuhan muhammadiyah di magelang memang banyak dan banyak membutuhkan donator, terus terang wae di SMP Muhammadiyah mungkid seperti Om komo ceritakan (pernah dikunjungi SBY), di SMP Muhammadiyah Blondo-dan MIM Blondo-gabung karo omahku (dana swadaya), kita sedang membangun gedung dan berusaha untuk memberi beasiswa bagi murid berprestasi yang tidak mampu (hampir sebagian besar adalah murid dengan penghasilan orang tua pas-pasan) dan para donatur ini (sebagian besar punya toko di muntilan dan juga ada orang jogja H. Sunardi sahuri depan balai kota Timoho) aku tahu sendiri adalah orang2 yang ikhlas, nyumbang terus menerus dan harta mereka tidak berkurang (ini yang harus kita contoh karena harta kita sesungguhnya itulah yang kita sumbangkan ke panti asuhan dll)….dadi ngalor ngidul iki, mungkin kalo kita sendiri kadang nggak sempet memikirkan hal2 sosial spt itu, tahunya berangkat pagi, pulang sore, gajian durung, naik pangkat belum, mobil ganti model terbaru durung, pulkam bangga mobile baru padahal kita nggak tahu cara mendapatkannya udah bener atau salah, padahal tetangga kita masih banyak yang membutuhkan uluran tangan kita, bayar pajak gede tapi nek kon nulung tonggone kosik disik (aku diprotes ora Ris) heh..heh…themane opo tho iki…….

  9. Setelah membaca dengan seksama tulisanmu menurut analisisku temane yo kowe menyindir Fuad.

    Kecuali nek kowe menyatakan secara eksplisit bahwa kowe salah satu donatur pembangunan dan memberikan beasiswa di Blondo, temane yo beda meneh. Sik lagi tak pikir :)))

  10. durung turu tho kowe Gdhe…lagi ndelok cecak yo neng kamar kost2 an, …motormu digowo neng singapur ora…uwong khan nggak harus transparan semua tho dhe, …mosok kayak mahfud MD-anggota DPR komisi opo lah, Busro Muqodas-Ketua Hakim Konstitusi…ditanya darimana hartanya kok dlm 1 th naik 5 milyard…mereka menjelaskan secara runtut……gaji saya sebagai DPR 1 bulan 30 jt ditambah tunjangan macem2 katanya 1 bulan bisa membawa 100 jt, ditambah gaji sbg dosen, gaji sering membawa seminar2 jadi wajar nek 1 th naik 5 M….sebenarnya mereka ini khan cuma nyari alibi aja, nek aku dadi KPK langsung tak cekel wae wong jelas nek….temane ki sakjane bagaimana membagi kekayaan atau kesejahteraan di negara kita (kowe karo minarwan isih wong indonesia ora) biar agak merata, gap si miskin dan kaya tidak terlalu besar…Terus terang menurutku gaji teman2 kita yang di oil kumpeni kayak om komo, thomas, pak dhe, susi, haris, priyo nek dikurskan dolar kiro2 2 ribu dolar atau lebih lah per bulan nettt, wis morah mareh lah nek ming urip neng jogja, bandingkan dengan gaji pembantu kita, aku pernah duwe pembantu di cirebon, dia punya anak 3, 1 SD, 1 SMP, 1 SMA, suaminya tukang becak karena memang sulit cari kerjaan, bagaimana dia berjibaku, makan aja 1 hari cuma 2x, bayar sekolah, kadang kita juga kasihan, mau nyarikan kerjaan lain kita juga cuma buruh, mau gaji besar kita juga gaji pas-pasan, kadang kita juga cuma bisa ngelus dada kita sendiri….nek ngelus dadane wong liyo dikampleng engko he..he…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: