Dini (akan) Sekolah Lagi

July 9, 2008 at 3:07 pm | Posted in Tarian Jemari | 10 Comments

Dini (akan) Sekolah Lagi

Sabtu, 5 Juli 2008, jam 12.50 WIB saya menerima sms dari Bapak Mertuaku, “Sampai saat ini masih aman, waktu kurang 10 menit.”. Tak berapa lama  kemudian, Mas  Eko, sepupu istriku menelpon, “tidak ada injury time, tidak ada limpahan pendaftar dari [kota] Jogja, semua bersorak seperti pendukung Spanyol”. Bapak Mertua dan Mas Eko, saat itu sedang memantau pendaftaran siswa baru di SMU 1 Sleman [Medari], sementara saya menunggu perkembangannya dari rig BN 5 yang sedang melakukan drilling well Asih North 0-0- 44A, kebetulan saya witness coring sejak Rabu.

Hari Sabtu merupakan hari terakhir pendaftaran SMU, dan Sabtu pagi Bapak memasukkan berkas pendaftaran Dini –pengasuhnya Afa- ke SMU 1 Sleman.

Dini, berasal dari Muntilan, dan sejak setahun yang lalu ikut keluarga kami di Turi, mengasuh Afa, sejak kecil dia ikut di keluarga Buliknya. Dia lulus SMP tahun kemarin, dan rencananya akan masuk panti asuhan agar bisa bersekolah, namun terlambat mendaftar dan slot sudah penuh. Dia kemudian berencana beristirahat setahun, dan tahun ini akan kembali masuk ke panti asuhan. Lebaran tahun lalu, saya, Ibunya Afa dan Afa datang menjemput Dini ke rumahnya setelah libur lebaran, moment itu saya gunakan untuk nembung ke Buliknya Dini agar Dini tetap ikut kami,  tidak masuk ke Panti Asuhan dan akan kami sekolahkan.

Beberapa bulan yang lalu, Dini disuruh ngambil berkas-berkas dia untuk mendaftar sekolah di Jogja. Surprised, ternyata nilai UAN dia sangat bagus, untuk tidak dibilang excellent, jumlahnya 25,6 dari tiga mata pelajaran, atau rata-rata lebih dari 8,5. Saat itu dia inginnya melanjutkan ke SMK jurusan Tataboga, namun dengan nilai sebagus itu kayaknya sayang dan saya berinisiatif untuk memasukkannya ke SMU. Ibunya Afa sempat survey ke beberapa SMU di Jogja, salah satunya SMU 4, alternative yang lain SMU 11. Namun keinginan untuk menyekolahkan di Jogja surut, seiring dengan keluarnya SK Walikota Jogja, yang menyebutkan kuota untuk calon siswa dari luar DIY Cuma 5%. Kami kemudian mencari alternative lain, pilihan pertama SMU 1 Sleman, berikutnya SMU Turi, sementara SMU Pakem tidak masuk hitungan karena akses yang terlalu jauh.

Setelah melengkapi syarat-syarat, termasuk rekomendasi dari Dinas Pendidikan Magelang dan membuat akte notaris, akhirnya Bapak mendaftarkan Dini ke SMU 1 Sleman, sayang fotocopy KK keluarga Buliknya Dini diragukan, karena ada coretan. Dini kemudian disuruh balik ke Magelang untuk mengambil KK yang asli, dan sekalian surat keterangan dari Pak Lurah. Akhirnya sabtu pagi berhasil mendaftar. Awalnya timbul kekhawatiran karena nilai UAN sekarang 4 mata pelajaran, untungnya SMU 1 Sleman menerapkan system konversi yang bagus, nilai UAN tahun kemarin dibagi 3 hasilnya dikalikan 4. Jadilah Dini mendaftar dengan nilai UAN konversi 34,15 dan bisa bersaing dengan pendaftar lain yang baru lulus.

Selasa, 8 Juli 2008, pegumuman siswa yang diterima di SMU 1 Sleman, pagi-pagi Bapak melihat pengumuman di SMU 1 Sleman, hasilnya belum ada karena lebih pagi dari yang dijadualkan. Sepulang dari ngisi kuliah, Bapak kembali lagi ke SMU 1 Sleman. Seperti sudah diduga, Dini diterima, Bapak kemudian mengambil berkas dan membawanya pulang. Dan tadi pagi, sebelum berangkat ke kampus Ibunya Afa dan bapak memasukkan kembali berkas pendaftaran ulang. Ketika saya Tanya berapa bayarnya, Ibunya Afa belum tahu karena akan dirapatkan dulu antara pihak sekolah dengan orangtua.

Alhamdulillah, satu langkah kecil sudah tertapaki, dan masih menunggu jarak yang membentang realitas dan harapan. Mudah-mudahan kami bisa menempuh dengan lancar, seperti sepenggal kalimat yang cukup dalam tertoreh dalam diriku, “hanya orang-orang yang berani menanggung resiko yang akan merasakan manfaat perjalanan yang jauhnya hanya dapat diukur dengan sejengkal doa”.

Sejenak mundur ke belakang, ada beberapa alasan kami untuk menyekolahkan Dini, a.l:

  1. Dini tidak akan selamanya ikut kami, karena itu kami berusaha membantunya menyiapkan bekal untuk masa depannya, salah satunya dengan memberinya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih baik. Dengan pendidikan yang baik, dia mudah-mudahan bisa mempunyai masa depan yang bagus dan bisa mengangkat keluarganya.
  2. Keluarga Buliknya Dini mempunyai semangat untuk menyekolahkan keponakan-keponakan dan anak-anaknya dengan baik. Dengan penghasilan yang pas-pasan, dia menyekolahkan 2 orang Kakak Dini dan Dini sampai SMP, baru memasukkannya ke Panti Asuhan. Saat ini adik bungsu Dini masuk ke SMP, sementara anak Buliknya masih ada 2 orang yang bersekolah di SD. Pekerjaan Om Dini sebagai penopang rumah tangga, berjualan makanan kecil di sekolahan.
  3. Dengan meningkatnya pengetahuan dan wawasan Dini, dia akan lebih baik mengasuk Afa disela-sela waktu sekolahnya.

Apakah dengan menyekolahkan Dini tidak akan menimbulkan kecemburuan dari orang lain? Karena Dini merupakan “orang lain” bagi keluarga kami. Bisa jadi ya, namun kami sudah mengantisipasinya jauh-jauh hari, tetangga dekat dan keluarga dekat sudah kami bantu dengan skema yang tidak jauh berbeda.

Dan kalau kita pernah melihat film Finding Forester tentu akan ingat dengan saat-saat William Forester membacakan tulisannya Jamal, “Saya William Forester, saya yang ada di foto itu… saya ada di sini untuk membacakan karya tulis saudara saya yang tidak bisa membacanya sendiri karena hak-haknya dicabut…… bla..bla..bla…. saudara tidak harus terlahir dari rahim yang sama”.

Dan, seperti William Forester, kami berharap bisa memberi kesempatan kepada Dini, untuk merangkai masa depannya…. Yang lebih baik tentu saja!!!

10 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Seandainya yg kebetulan diberi rejeki lebih bisa spt Om Sulastama ini akan banyak lagi Dini Dini yang lain yg akhirnya tercipta negeri yang Raharjo , Baldatun toyyibatun wa Robun Ghofur.
    Selamat Om Sulastama atasditerimanya si Dini di SMU favorite Sleman.Fastabichul Choirot

    ISM
    (saiki Jkt lagi Sepiiiii terutama yen esuk , akeh sing podo liburan lan goleke anake sekolahan , saiki dg sistem PSB online bisa dimonitor dr segala tempat tapi iso dagdikdug sebelum batasakhir pendaftaran krn iso sewaktu waktu terpental …. )

  2. Beberapa tahun yang lalu salah satu pembantu kami … denyom soko Wonogiri yang lulusan SMP… kami sekolahkan ke salah satu SMA di Pondok Gede sampai lulus…. diam2 rencananya mau dicarikan kerjaan sebagai denyom penjaga uang tol oleh adik iparku yang di Jasa Marga ….Eeee… lha kok malah trus kepincut karo sopir angkot sing uwis nduwe bojo …. Rupanya pergi – pulang sekolah dengan angkot yang sama lama-lama ongkosnya di-gratis-kan sama sopirnya …. apalagi sopir angkotnya berasal dari Wonogiri juga … lha wis klop tho…. Kami pada mulanya ndak tahu hubungan GGNN tsb. … sampai suatu ketika ada ibu2 sedang mengandung tua datang sembari nggandeng anak kecil … ngadu bahwa pembantu kami telah ngrebut misoanya…. Sewaktu si denyom di sidang …en dituturin / dinasehatin cem-macem … selain kami juga dinasehatin oleh teman2 sesama pembokat en juga oleh karyawan2-ne bojoku …
    kabeh mental kayak bola pingpong … tetep wae si denyom mbegegeg ugeg-ugeg koyo reco nggladag… Rupanya memang betul bahwa cinta telo pendhem itu buto ijo en begu ganjang temenan … tai kucing rasa cokelatos caramelos lezatos … gak berdaya en lunglai KO ketaman aji-aji ‘timun wungkuk’-e si sopir angkot plaiboi cap kampak merah….

    Kocap kacarito …. setelah sekian taun berlalu ….

    Bulan Juni kemarin sewaktu kami sak brayat ke Yogya … meanwhile anak bojo sedang foya-foya di sepanjang Malioboro menghambur-hamburkan uang Bapaknya … en si Bapak sehabis mbantu Wak Mufti ngasih kursus di Geougm terus ngloyor ke Malioboro Mall en janjian untuk ketemu disitu sebelum cabut ke Solo …. eh sewaktu melintas didepan Apotik Guardian di lantai dasar …
    ujug tiba-tiba ada denyom teriak keras melengking… “Bapak….!”. Trus seorang pramuniagawati berseragam Guardian menghambur kehadapanku …. en cekk… tangan kananku di raihnya…. trus cup … punggung tanganku dikecupnya…. persis seperti umat mencium tangan seorang Dai nge-top markotop … “Lho … kowe tho Yun…?’, alokku kaget … Singkat cerita rupanya si denyom lari dari suaminya en pindah ke Gondolayu bersama anak perempuan balita semata wayang orang…. Lha mana tahan jadi istri kedua sopir angkot trayek G5 Pondok Gede yang hobinya mendem en main ceki …..

    Wassalam,
    PDST
    (mencungul malih….)

  3. alhamdulillah…
    selamat atas langkah kecil ini ya Mas..
    semoga semua diberi kemudahan oleh Allah swt,
    amin ya Allah…

    salut,
    intan

  4. “…………….ternyata nilai UAN dia sangat bagus, untuk tidak dibilang excellent, jumlahnya 25,6 dari tiga mata pelajaran, atau rata-rata lebih dari 8,5. Saat itu dia inginnya melanjutkan ke SMK jurusan Tataboga, namun dengan nilai sebagus itu kayaknya sayang dan saya berinisiatif untuk memasukkannya ke SMU”……..
     
    Aku ingin mengomentari kalimat dik Komo tsb diatas……..
     
    1. Kayaknya sdh menjadi “paradigma” kita kalo yang masuk SMK (SKKA, STM) atau sekolah kejuruan tingkat menengah itu hanya untuk anak2 yang “kurang” pandai….PADAHAL dalam realitas kehidupan kita di negeri Astina sekarang ini, tingkat pengangguran dengan ijasah SMU, S1 jauh lebih banyak dari lulusan STM/SMK.
     
    2. Dalam dunia bisnis, tetap dijumpai kelompok pekerja bawahan, menengah dan atasan yang semuanya tuntutan kinerjanya juga harus bagus sesuai levelnya…
     
    Lha mosok sih yang masuk SMK kudu luwih bodho….
     
    Ingat kenyataan di dunia pendidikan kita…?
    Dulu (bahkan sampai saat ini) anak2 lulusan SMU/SMA yang pinter2 pasti masuk Universitas….Siapa yang masuk IKIP atau Sek Tinggi jurusan Pendidikan ? pasti anak2 yang level menengah atau yang tidak “berani” masuk Univ…Apa yang terjadi ?
     
    Dunia Pendidikan kita “amburadul” karena di”jalan”kan oleh kawan2 kita dulu yang semasa sekolah di SMA nilainya pas-pas an…. Ayo kita rubah paradigma ini…(eh anaku gak ada yg mau jadi guru juga ding)….
     
    Ayo kita dukung pengembangan SMK dan ikut mempromosikan anak2 pinter yang ingin cepat kerja untuk masuk STM/SMK………
     
    Note: Aku butuh lulusan STM Mekanik (sing Pinter tentunya) dan mau bekerja tentunya untuk jadi operator produksi di lapangan…..ada yang punya sedulur ?…
     
    Salam,
    Soejanto

  5. wah saya juga dari muntilan. smu 1 muntilan gak kalah bagus juga kok sama smu 1 sleman. hehe..😆

  6. Kejauhan kalau ke Muntilan,
    kan kami tinggalnya di Turi, SMU 1 Sleman pilihan yang reasonable untuk jarak dan kualitas🙂

  7. Mas Janto
    ” …. Lha mosok sih yang masuk SMK kudu luwih bodho….”

    Itu hanyalah “fakta”, walau mungkin tidak seluruhnya, tapi sebagian besar yg kita lihat seperti itu. Namun bukan “kudu” atau keharusan.
    Kenyataan saat ini ini itu orang mengejar ijazah dan dan yang nilai bagus masuk kuliah. Kenyataan lain yang punya duik yang mampu kuliah.
    Tetapi itulah yang terjadi !

    Kenyataan yang pinter2 masuk oil co itu juga bukan keharusan. Tapi kalau di statistik ya begitulah adanya, secara modus statistik begitu je. Apakah itu sebaiknya, ataukah itu seharusnya, ya aku ga tahu …
    Anomali-anomali itu ya memang ada juga dan sering yang dicari …
    seperti catetan mas Janto ” Aku butuh lulusan STM Mekanik (sing Pinter
    tentunya) ” …. ini mencari anomali looh …

    Btw, Kalau boleh tahu berapa IPKnya Mas Janto ?

    RDP

  8. Bravo dan salute buat mas Komoaku terharu membacanya,dan sekarang jadi semangat lagi untuk belajar.
    beberapa hari ini aku sempat merasa pesimis dan kurang pede,karena sabtu ini “harus” training ke ELC, France. dan harus berhasil,jika tidak bakal di kick out sempat khawatir dan membuat drop for several days. tp setelah baca tulisan ini,persepsiku jadi lain tentang peristiwa bbrp hari ini,nothing to loose, tapi ini saatnya memanfaatkan kesempatan yang ada (dalam menuntut ilmu dan bekerja).

    Maaf nih malah jadi curhat minta doanya ya dari kakak2 dan temen2 semua,semoga aku lulus

    Regards,
    MuchtarS
    SCHingmBLenGER Testing

  9. Alhamdulillah semoga langkah baik ini bisa diikuti oleh lainnya. Sekedar informasi kami yang tergabung dalam KLP sampai saat ini masih eksis memberikan beasiswa bagi adik2 kita yang kurang mampu dalam wadah KLP Peduli. Wadah ini dikoordinir oleh kak Intan. Mohon doanya semoga KLP Peduli ini bisa langgeng. Amin..

  10. […] Posts Coring Sampel di Delta Mahakam It’s MeDini (akan) Sekolah LagiMakan Siang di Warung Ikan Bakar Jimbaran bersama Ki BrotoMenikmati Ikan Segar di Pantai Depok – […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: