Menikmati Ikan Bakar Lubuk Idai Saat Berbuka
September 1, 2009 at 10:56 pm | In Kuliner | Leave a CommentTags: Ayam Bakar, Bekasap AMT, Buka Bersama, Duri, Gulai Pucuk Paku, Ikan Bakar, Kolak, Lubuk Idai, Riau, Sup Kerang
Menikmati Ikan Bakar Lubuk Idai Saat Berbuka
Senin 31 Agustus 2009 saya bersama tim Bekasap AMT berbuka bersama di RM Lubuk Idai, Jln Hang Tuah Duri. Acara buak bersama ini dalam rangka farewell party-nya teman kami -Anak Agung Hendra- yang akan pindah tim ke RMT Heavy Oil Duri. Saya berangkat dari rumah jam 18.00, dijemput oleh Yuni Budi yang kemudian bersama-sama menjemput Pak Jess Brokley di rumahnya. Kami sampai di LUbuk Idai jam 18.20, sesaat sebelum waktu buka puasa tiba. Sewaktu kami datang makanan sudah terhidang.
Kolak
RM Lubuk Idai merupakan rumah makan minang melayu, dengan menu utama ikan bakar, ayam bakar dan sup kerang, sedangkan sayurnya gulai paku dan gulai jariang (jengkol). Kolak, sebagai makanan khas buka puasa tidak ketinggalan sudah siap di meja makan.
Continue reading Menikmati Ikan Bakar Lubuk Idai Saat Berbuka…
Persiapan untuk Wawancara
August 26, 2009 at 10:52 pm | In Tarian Jemari | 4 CommentsTags: HRD, Job Interview, Negosiasi Gaji, Persiapan Wawancara, Thank You Letter, Tips Interview, Wawancara
Persiapan untuk Wawancara
Saya beberarapa kali ditanya oleh teman mengenai persiapan wawancara kerja. Meskipun dulu saya relatif sering menjalani wawancara kerja, namun sebagian besar saya peroleh ketika saya mempunyai pengalaman kerja, karena di awal-awal karier saya, saya bekerja dengan dosen saya yang tidak memerlukan wawancara.
Beberapa hal yang dulu saya lakukan dalam persiapan wawancara a.l:
- membuat catatan kecil mengenai kemampuan-kemampuan yang saya miliki sehingga perusahaan layak untuk mempekerjakan saya
- membawa beberapa salinan CV dan contoh-contoh pekerjaan yang pernah saya kerjakan
- menggunakan pakaian yang rapi dan sopan
- datang sebelum waktu interview yang ditentukan. Biasanya saya menggunakan ojek atau taxi agar bisa datang tepat waktu.
- berjabat tangan dengan semua pewawancara dan menunggu untuk dipersilahkan duduk.
- dst….

Kartun Interview [Sumber: Reality SEO ]
Ternyata, apa yang selama ini saya lakukan untuk mempersiapkan wawancara kerja sesuai dengan teori. Menurut Barbara Patcher, dalam bukunya New Rules @ Works, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk bersiap-siap menghadapi wawancara kerja. Hal-hal itu adalah sebagai berikut:
1. Latihan. Berlatihlah memainkan peran wawancara dengan seorang teman atau kolega. Antisipasilah pertanyaan sulit dan putuskan bagaimana menjawabnya. Latihan mengenai cara menjawab pertanyaan wawancara bermanfaat untuk membangun rasa percaya diri.
Utang-utang yang Dibutuhkan
August 23, 2009 at 12:26 am | In Keuangan Keluarga | 22 CommentsTags: Bank Mandiri, Kosudgama, Liability, Pendapatan, Rasio Hutang, Rasio Utang, Utang, Utang Konsumtif, Utang Produktif
Utang-utang yang Dibutuhkan
Dulu, saya membayangkan seandainya punya gaji X,x juta/ bulan, maka tidak perlu utang lagi untuk memiliki sesuatu, tinggal menabung dan membeli sesuatu ketika tabungan sudah mencukupi untuk membeli barang yang kita inginkan. Bayangan saya ini terbukti sampai saat saya punya satu orang anak dan kemudian saya pindah menjadi pekerja permanen. Waktu anak saya umur tiga bulan dan saya pindah ke Caltex [sekarang Chevron], saya tidak memiliki utang [termasuk kartu kredit] dan memiliki beberapa juta tabungan.
Sampai suatu saat, saya terbentur bawa ada beberapa barang yang tidak bisa kami beli cash, namun saya tetap bersikeras untuk mengumpulkan uang dulu untuk membelinya. Unfortunately, tetap saja tabungan kami belum cukup untuk membelinya, sehingga saya terpaksa atau memaksakan diri untuk membelinya dengan kredit atau dengan skema pembayaran melalui bank.
Hutang (Source : Public Financial Management Blog )
Barang pertama yang saya beli melalui skema ini, yaitu mobil untuk keperluan transportasi ketika Afa sudah akan sekolah. Awalnya saya berencana memakai uang saving plan untuk membeli cash mobil, namun kemudian diveto oleh Ibunya Afa, uang saving plan dialokasikan untuk pendidikan anak-anak kami. Akhirnya saya mengalah dan membeli mobil dengan skema pembayaran bank. Cerita mengenai pembelia mobil ini ada di sini jogJAZZkarta.
Hari Pertama Afa Masuk TK Budi Mulia Dua Pandean Sari
August 16, 2009 at 11:41 pm | In Acara Keluarga, Tarian Jemari | 3 CommentsTags: Budi Mulia Dua, Budi Mulia Dua Pandean Sari, FK UGM, FKG UGM, Hari Pertama Afa Masuk TK, Jogja, KFC, Stasiun Tugu, TK, Yogyakarta
Hari Pertama Afa Masuk TK Budi Mulia Dua
“Anak adalah personifikasi kehendak yang belum berpijak.
Orangtuanyalah yang dititipi tugas untuk memijakkan kehendak anak,
ke bumi kesadaran Illahi, ke bumi hati nurani dan ke bumi tanggungjawab sosial.”
Senin, 13 Juli 2009. Akhirnya hari yang kami nantikan tiba, hari pertama Afa masuk sekolah di TK Budi Mulia Dua Pandean Sari. Ya, setelah melalui seleksi dan diskusi yang panjang, akhirnya kami memutuskan untuk memasukkan Afa di TK Budi Mulia Dua Pandean Sari setelah dia menyelesaikan playgroupsnya di Budi Mulia Dua Blimbing Sari.
Di hari pertama masuk sekolah ini, yang merupakan hari istimewa, kami sengaja menyempatkan diri untuk mengantar Afa sekolah, saya mengambil cuti tahunan dan Ibunya Afa bolos kuliah di FK UGM.
Nampang Dulu
Jam tujuh pagi, saya sudah menyuruh Afa untuk mandi, saya juga sempat mengambil gambarnya, sayang dilarang Afa untuk di upload di sini, malu katanya. Setelah mandi dan memakai seragam sekolah, Afa nampang dulu di depan rumah, dengan seragam sekolah dan bergaya ala bolang, serial TV kesukaan dia.
Continue reading Hari Pertama Afa Masuk TK Budi Mulia Dua Pandean Sari…
Biaya pendidikan anak
August 11, 2009 at 4:06 pm | In Tarian Jemari | 1 CommentTags: Anak, Biaya Pendidikan Anak, Budi Mulia Dua, Kuliah, Pendidikan Anak, Rovicky
Biaya pendidikan anak
“Professionals and the institutions in which they work tend to define an activity,
in this case learning, as a commodity (education),
‘whose production they monopolize, whose distribution they restrict,
and whose price they raise beyond the purse of ordinary people and nowadays,
all governments’ (Lister in Illich 1976: 8).”
Beberapa waktu yang lalu, saya berdiskusi dengan Mas Rovicky tentang biaya pendidikan anak di milis kampung-UGM . Mas Rovicky menanyakan kepadaku sbb: “Mo kalau memang konsen dengan pendidikan anak, berapa persen dari pendapatanmu kau keluarkan untuk pendidikan anak-anak ? Masih inget tulisan dibawah ini ? http://rovicky.wordpress.com/2007/07/14/kok-pelit/ “
Saya pun kemudian menjawab sebagai berikut.
Kalau untuk biaya pendidikan anak yang dikeluarkan sekarang, rasanya tidak terlalu besar, karena anakku masih satu dan TK yang biayanya tidak terlalu mahal. Saat ini pengeluaran rutin untuk spp hanya sekitar 225K, uang masuk sekitar 3jt-an [dan masih bisa dicicil 3 xlagi]. Kebutuhan yang lain, masuk alokasi budget RT, seperti beli buku bacaan di gramed 1 X tiap bulan [sekitar 300-400K habisnya], bensin untuk nganter sekolah dsb2.
Suasana Kelas
Yang mungkin relatif besar alokasinya adalah biaya pendidikan di masa yang akan datang. Ada tiga skema yang saya persiapkan, eh kami persiapkan untuk biaya pendidikan mbesok-mbesoknya a.l:
1. Saving plan, ini aslinya program company tempat saya bekerja. Skemanya, saya dipotong gaji pokok saya 10% dan company menambahkan 6%, dan company kemudian menaruh uang itu dalam bentuk tabungan dollar.
2. Asuransi pendidikan, kebetulan dulu pas Afa umur 6 bulan bikin di takaful, preminya sekitar 1,2% perbulan dari salary ku [sekarang].
3. Tabungan pendidikan, kemarin pas ulang tahun Afa yang ke-4, saya bikinkan dia tabungan pendidikan di Axa, preminya sekitar 2,5 % dari salary ku [sekarang]. Total dari ketiganya, saya mengalokasikan sekitar 13,7% dari pendapatan saya untuk biaya pendidikan anak saya dan company nambahi 6% [ini salah satu yang bikin istri saya seneng aku kerja di company sekarang].
Point ke 2 dan 3 akan bertambah saat Afa punya adik. Mungkin prosentasenya ketiganya relatif lebih kecil dari prosentase alokasi APBN untuk pendidikan.
Pulung: Menyemai Asa di sebidang Sawah
August 4, 2009 at 8:30 pm | In Tarian Jemari | 10 CommentsTags: Jogja, Menyemai Asa, Pulung, Sawah, Sleman
Pulung: Menyemai Asa di sebidang Sawah
3 Juli 2009, sehabis maghrib, saya sedang chating dengan Afa dan Ibunya. Tengah asik-asiknya chating, tiba-tiba ada telpon masuk ke hp-ku, dari nomer Ibunya Afa. Lha lagi chating kok telpon, ada apa? Kemudian telpon saya angkat. Ternyata yang telpon Eyang Kakungnya Afa. Beliau memberi tahu kalau ada orang menawari tanah, tidak berapa jauh dari rumah, luasnya Y ribuan meter, harga penawaran xxx ribu / meter.
Wah kebetulan fikirku, soalnya sejak tahu lalu kami sudah berencana untuk membeli sebidang tanah untuk persiapan masa depan kami. Rencananya kami membeli di daerah yang dekat kampus, dengan alokasi budget sekitar YYY-YYZ jt. Eyangnya Afa, juga menambahkan info, kalau harganya masih bisa ditawar, dan pemiliknya hanya butuh cepat uang XYZ jt, sisanya bisa dilunasi nanti.
Saya kemudian meminta Eyangnya Afa untuk menegokan harga, dan apalagi kalau menurut beliau lokasi dan harganya baik. Beliau juga akan mencarikan tambahan uang untuk menutupi uang muka XYZ jt, karena tabungan kami tidak mencukupi, dan proses peminjaman ke bank membutuhkan waktu.
Lokasi Sawah
Minggu, 5 Juli 2009, sepulang dari mengajar di Wonosobo, Eyangnya Afa menemui pemilik tanah untuk menegosiasi harga. Pemilik tanah menurunkan harga penawaran menjadi xxy ribu/ meter dan Eyangnya Afa menawar xyy ribu/ meter. Malamnya saya menelpon Eyangnya Afa dan mengetahui hasil negosiasi ini, dan mendiskusikan skema pembayaran. Eyangnya Afa berjanji besok akan menemui pemilik tanah dan menegosiasikan harga. Keesokan harinya, Eyangnya Afa menemui lagi pemilik tanah, dan akhirnya terjadi kesepakatan harga, xyz ribu / meter, dengan syarat kami yang harus membayar pajak penjualan dan pajak pembelian sesuai dengan NJOP, biaya balik nama dan notaris. Eyangnya Afa kemudian menelpon saya dan memberitahu hasil negosiasinya, dan saya pun mengiyakan untuk membelinya
Munas Kampung-UGM di Sate Samirono
July 22, 2009 at 5:26 pm | In Kuliner, Tarian Jemari | 2 CommentsTags: Jogja, Kampung-UGM, Munas Kampung-UGM, Samirono, Sate Samirono
Munas Kampung-UGM di Sate Samirono
Sate Samirono, Jln Colombo 105/ 38, Samirono, Caturtunggal, telpon 0274 541288/ 541287
Kamis 16 Juli 2009, saya mengundang teman-teman milis kampung-UGM untuk melakukan gathering di sate Samirono, Jln Colombo. Kampung-UGm adalah komunitas alumni UGM yang tergabung dalam milis kampung-UGM@yahoogroups.com, dan merupakan salah satu milis alumni UGM yang paling aktif anggotanya. Kebetulan saya menjadi salah satu moderator milis itu, dan sudah menjadi kebiasaan untuk mengadakan kumpul-kumpul dengan anggotanya.
Daftar Menu
Pemilihan lokasi Sate Samirono karena beberapa hal, antara lain lokasinya yang di dekat kampus UGM sehingga aksesnya mudah buat kami, dan tentu saja karena cita rasa sate samirono yang sudah melegenda. Menurut beberapa teman, sate kambing samirono merupakan sate terenak di Jogja.
Merayakan Ulang Tahun di Gubug Mang Engking
May 25, 2009 at 10:32 pm | In Family Event, Kuliner | Leave a CommentTags: Gubug Mang Engking, Gurami Goreng Bumbu Cobek, Jogja, Sleman, Udang Asam Manis, Udang Bakar Madu, Udang Goreng, Ulang Tahun, Yogyakarta
Merayakan Ulang Tahun di Gubug Mang Engking
Gubug Makan Mang Engking, Jamur, Sendangrejo, Minggir, Sleman,
Flexi: 0274-7489732, HP: 085868020045
Minggu, 17 Mei 2009, saya dan Mas Eko sekeluarga makan siang di Mang Engking. Kami dalam perjalanan pulang setelah mengantarkan rombongan keluarga melakukan lamaran di Purworejo. Kebetulan hari ini bertepatan dengan ulang tahunku, dan saya ingin mengajak keluarga makan siang di Gubug Mang Engking.
Papan Nama Mang Engking
Warung makan Gubug Mang Engking adalah rumah makan yang sangat terkenal sebagai spesialis masakan udang galah di Yogyakarta. Rumah makan ini terletak di Jamur, Sendangrejo, Minggir, Sleman, didirikan oleh Bapak Engking Sholikhin dengan menu andalan berupa udang bakar madu.
Mang Engking dan istri
Sebagai menu andalan, sekilo udang bakar madu disajikan dalam 8 tusuk sate udang yang masing-masing terdiri dari 5 ekor udang. Sedangkan menu udang yang lain adalah udang goreng, asam manis, saos tiram dan udang rebus, yang dibagi dalam ukuran udang super [sekilo terdiri dari 12 ekor] dan udang udang standart [sekilo terdiri dari 30 ekor].
Continue reading Merayakan Ulang Tahun di Gubug Mang Engking…
Pagilaran: Menemani Ibunya Afa Pengabdian Masyarakat
May 25, 2009 at 1:08 pm | In Acara Keluarga, Tarian Jemari | Leave a CommentTags: Batang, FKG UGM, Jazz, Pagilaran, Pengabdian Masyarakat, Yogyakarta
Pagilaran: Menemani Ibunya Afa Pengabdian Masyarakat
Jum’at 22 Mei 2009, saya, Afa, ibunya Afa dan Eyangnya Afa berangkat ke Pagilaran. Ibunya Afa akan berpartisipasi sebagai dokter umum di pengobatan masal dalam rangka ulang tahun PT Pagilaran. PT Pagilaran adalan salah satu perkebunan teh di Batang, yang beralamat di Pagilaran, Kec. Blado, Kab. Batang Telp. (0285) 414030.
Kami berangkat dari rumah jam 8 malam, menggunakan jazz. Eyangnya Afa yang nyopir, sekalian beliau nanti akan mengajar di Tegal. Berbekal atlas, saya menavigatori Eyangnya Afa. Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya sampai di perumahan Pagilaran jam 12.30 malam. Eyangnya Afa kemudian tidur di mobil, sementara Saya, Afa dan Ibunya tidur di kamar dengan 3 tempat tidur.

Jalan-jalan Pagi
Keeseokan harinya, jam 8 pagi Ibunya Afa sudah mulai bergabung dengan teman-temannya di balai pengobatan. Sementara saya dan Afa jalan-jalan. Saya mengajak jalan-jalan ke lokasi outbond dan kebun teh. Saya memfoto-foto Afa, untuk dokumentasi biar keren. Menikmati hawa pegunungan yang sejuk, membuat kami semangat untuk menikmati pemandangan.
Continue reading Pagilaran: Menemani Ibunya Afa Pengabdian Masyarakat…
Munas kampung-UGM di Pondok Sunda Senayan City
May 11, 2009 at 8:36 pm | In Kuliner, Tarian Jemari | Leave a CommentTags: Ayam Bakar, Empal, Es kacang Merah, Es Ketan Hitam, Jakarta, Kampung-UGM, Mendoan, Pondok Sunda, Sambel Kemangi, Sambel Mangga, Sate Udang, Senayan City, Sop Buntut, Tahu Goreng, Tahu Isi, Tempe Bacem, UGM, Usus Goreng
Munas kampung-UGM di Pondok Sunda Senayan City
Pondok Sunda Senayan City LG. 78, Jl. Asia Afrika Lot 19, Jakarta SelatanTelp: 021-72781388
Selasa, 5 Mei 2009, saya bertemu dengan Mas Rovicky di lantai bawah JCC. Mas Rovicky merupakan kakak kelas saya di geologi dan mentor “virtual” di milis kampung-UGM. Saat itu saya baru selesai mengecek poster yang dipamerkan pada saat IPA conference yang ke-33, sedangkan Mas Rovicky sedang mengobrol dengan Mas Iswani dan Mas Henry Banjarnahor. Mas Rovicky kemudian menyuruh saya untuk mengadakan gathering milis kampung-UGM, lokasinya di Senayan City, waktunya Rabu malam. Saya kemudian minta tolong Intan untuk membuat undangan di milis kampung-UGM.
Rabu, 6 Mei 2009, saya, Afa dan Ibunya berangkat dari hotel Mulia jam 19.00. Awalnya saya tidak akan mengajak Afa karena dia kelihatan capek setelah seharian main-main ke Sea World dan Gelanggang Samudera, namun dia minta ikut dan ndak mau ditinggal di hotel dengan Ibunya. Kami kemudian naik taxi di depan hotel Mulia. Anung sudah sampai duluan, dan menunggu di lower ground Senayan City, Mas Rovicky juga sudah sampai, saya kemudian menginfokan posisi Anung ke Mas Rovicky.
Jam 19.30 kami bertiga sampai di Senayan City, perlu waktu 30-an menit untuk menempuh jarak Mulia-Senayan City yang hanya sekitar 1 km-an [termasuk nunggu taxi], padahal kalau sendirian jalan kaki cuma perlu waktu sekitar 15 menit. Anung dan Mas Rovicky sudah menunggu, dan kamipun kemudian mencari tempat untuk makan malam dan mengobrol.
Saya dan Mas Rovicky tidak mengetahui tempat makan yang enak [makanan dan suasananya], sehingga keputusan di serahkan ke Anung. Anung kemudian mengajak kami ke Pondok Sunda di LG. 78. Begitu masuk, kami langsung diminta untuk memilih lauk. Ada bermam-macam lauk dan sambal khas rumah makan Sunda yang disediakan rumah makan ini. Setelah memilih lauk untuk makan malam kami, kami kemudian mengambil tempat duduk di bagian belakang, yang rencanananya dipesan untuk 6 orang. Sambil menunggu pesanan makanan kami datang, kami berdiskusi ngalor ngidul. Salah satunya, Mas Rovicky menyarankan posisi kontrak ataupun permanen, yang paling penting adalah besarnya penghasilan pertahunnya kalau mau pindah pekerjaan. [Menurutku ini cocok untuk Mas Rovicky yang mempunyai reputasi yang sangat baik dan jaringan yang luas, sementara saya masih membangun reputasi itu]
Tidak berapa lama kemudian, pesanan makanan kami sudah tiba. Anung dan Mas Rovicky memilih lauk a.l tahu isi, empal, tempe bacem, ayam bakar dan mendoan. Sedangkan saya dan Ibunya Afa memesan ikan asin, tahu goreng, mendoan, ayam bakar usus goreng dan sate udang. Afa tidak kalah memesan sop buntut.
Lauk Anung dan Mas Rovicky
Continue reading Munas kampung-UGM di Pondok Sunda Senayan City…
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.










