Perlukah Museum Monumental “Virtual” Gempa?

October 22, 2009 at 9:49 pm | In Tarian Jemari | Leave a Comment
Tags: , ,

Perlukah Museum Monumental “Virtual” Gempa?

Kemarin, Mas Anif Punto, alumni GeoUGM yang menjadi wartawan Republika, memposting tulisan Bu Dwikorita mengenai Perlunya Museum Monumental Gempa. Tulisan Bu Dwi Korita itu di muat http://www.republika.co.id/koran/42/83730/Perlunya_Museum_Monumental_Gempa

Dalam tulisan tersebut, beliau antara lain menuliskan keprihatian sebagai berikut:” Belum adanya museum monumental ini cukup memprihatinkan, bahkan mengkhawatirkan bagi kepentingan pembelajaran masyarakat untuk siap bencana. Dalam kurun waktu puluhan tahun, masyarakat kita cenderung mudah melupakan kejadian gempa dan dampaknya. Bahkan anak cucu kita mungkin sama sekali tidak bisa lagi membayangkan kejadian gempa bumi tersebut dan dampaknya.”

Mas Agus Hendratno, staff  pengajar di jurusan teknik geologi UGM, yang juga concern dengan masalah bencana alam, mengamini ide Bu Dwikorita, berikut ini tanggapan dari Mas Agus Hendratno, :” Ide yang sangat baik. Untuk Museum Monumental Tsunami sudah dibangun di Aceh, dengan cagar hasil lemparan gelombang tsunami yaitu : kapal PTLD. Untuk gempa Bantul – Klaten 2006 kemarin hanya berupa “tugu peringatan gempa” yang disebut sebagai “Tugu Monumen Lindu Gede” di Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, Klaten. Hanya Tugu Monumen Lindu Gede tsb belum mencukupi sebagaimana “museum monumental gempa” yang dibayangkan bu rita. Yang digagas bu rita tsb pernah muncul di ranah beberapa LSM Pengurangan Resiko Bencana di Gantiwarno, Klaten yang akan mencagar rumah penduduk yang roboh, tapi tidak cukup kuat karena tarik ulur ganti rugi rumah yang akan dicagar tsb. Akhirnya cukup dibangunkan Tugu Lindu Gede di Sengon, Prambanan, Klaten.”

Saya, kemudian ikut nimbrung dengan ide yang sederhana, untuk menanggapi tulisan Mas Agus Hendratno tersebut, Quote:”Mas Gus Hen, bagaimana kalau monumen virtual? ke depannya kan bakal banyak masyarakat yang mengakses informasi online…”.

Meskipun ide saya sederhana, ternyata ada dua tanggapan yang relevan, yang pertama ada tanggapan langsung dari Mas Agus Hendratno. Berikut petikan email beliau,: ” Kang Tomo, itu juga bagian dari monumen, saya sangat setuju. Hanya permasalahannya masyarakat korban bencana-bencana merusak saat ini jauh dari jangkauan IT. Sehingga metode pembelajaran publik harus dibedakan, karena masih ada yang belum melek IT atau “melek virtual”. Tapi bagi pengambil keputusan dimana saja, monumen virtual tentang bencana geologi yang merusak selama ini, adalah sangat penting dan strategis, itu juga bagian dari penetrasi Earth System Governance dalam sistem birokrasi ke depan. Minggu depan materi Earth System Governance akan kami ajarkan kepada seluruh birokrasi se Jawa Timur di Pasuruan (ada pejabat Pemprov Jatim memberi kesempatan saya untuk mendiskusikan hal tersebut..) Mohon maaf sedikit saya buka…, karena ini bagian dari edukasi publik atau “kampanye birokrasi sadar earth system dalam keputusan politiknya” ke depan. Paling tidak memulai dari yang paling sederhana dulu…(orang lain bisa jadi ini adalah “ecek-ecek”..ndak apa-apa..ikhlas saja.).., hasilnya Wallahu ‘alam bissowab…”

Dari tulisan di atas, Mas Agus kayaknya setuju dengan ide monumen virtual, bahkan menurutnya sangat penting dan strategis bagi para  pengambil kebijakan.

Sedangkan satu tanggapan yang lain, cukup membuat surprise karena datang dari Mas Rovicky, yang menurut saya sudah membuat monumen virtual dari beberapa bencana alam yang menimpa Indonesia beberapa waktu terakhir. Blog beliau,  Dongeng Geologi adalah salah satu monumen virtual yang merekam dan menganalisa gempa Jogja, juga gempa Aceh, lumpur sidoarjo dan gempa-gempa yang lain. Blog beliau  bisa mengedukasi masyarakat pengguna  internet selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu dan  365 hari pertahun :) .

Berikut petikan email Mas Rovicky :  “Sakbenere idenya Komo ini suangat brilliant !
Kita seringkali ngga ngerti apa maksud si monumen itu dibuat. Tugu di Jogja sakjane dibuat sebagai peringatan kebencanaan. Namun karena kita tidak mampu “membaca” maka kitapun lupa akan pesan dari si monumen itu. Pesan itu dibuat dengan bahasa wektu itu saja.
Mas Komo sudah memiliki ilmu “ngerti sakdurunge winarah” atau ilmu masa depan. Gempa merupakan bencana yang “langka” terjadi di Jawa ini. Kalau melihat jeda antar satu gempa dengan gempa yang lain 30-50 tahun. Dimana cara “membaca” peninggalannya juga sudah susah dimengerti. Sehingga mengakibatkan benca itu terulang karena merasa tidak memiliki pesan. Monumen sudah dianggap sebagai bahan kajian arkeologi saja. Bukan sebagai peringatan tanda waspada.
Salute Mas Komo … anda berpikir buat cucu cicit yang mungkin 40-50 tahun lagi membaca “tetenger” monumenmu di belantara maya (virtual). Yang saya kira akan menjadi monumen yang lebih mudah dibaca di masa depan ketimbang bangunan gedung roboh yang susah “dibaca”.

Saya merasa tersanjung sekaligus tertampar dipuji oleh Mas Rovicky, karena saya hanya melontarkan ide mengenai monumen virtual dan Mas Rovicky sendiri sudah memulainya beberapa tahun yang lalu. Ide saya mengenai monumen virtual itu pun salah satunya karena melihat betapa efektinya blog Mas Rovicky dalam mengedukasi  masyarakat kita mengenai bencana geologi. Blog tersebut menjadi rujukan bukan hanya oleh pribadi-pribadi yang peduli dengan bencana alam, namun  juga menjadi rujukan beberapa  media masa. IAGI, bahkan pernah memberikan penghargaan kepada beliau saat munas di Pekanbaru.

Tadi sore, saya juga sempat chating sebentar dengan Mas Rovicky, berikut petikan diskusi kami
Rovicky: ide brilliant dengan virtual monument mu !
me      : matur nuwun Mas… kayake monumen virtual lebih abadi.. dan sudah dirintis dengan blognya Mas Rovicky yang dongeng geologi itu
Rovicky: paling tidak bukan hanya kajian sejarah saja.  hahahah kau tau juga kah ?
me      : tahu apa Mas? ketika kita menulis apa yang terjadi saat ini, mungkin itu bagian dari sejarah yang bermanfaat bagi generasi mendatang.
Rovicky: tahu kalau aku mengarah kedepan ya … makanya aku lebih suka menuliskan di blog ketimbang koran
me      : lah koran akan segera terlupakan…
Rovicky: hihihhi
me      : kalau di virtual itu generasi mendatang masih bisa membaca.. dan itu bagian dari knowledge management yang tidak banyak disadari orang. knowledge managemenet dan transfer knowledge sekaligus.
Rovicky: hiya mo … jarang yg berpikir kedepan … jauuuh.  kesadaran temporal itu emang langka rupanya …:P
kronologis maneh.
me       : lah geologist kan mestinya sadar ruang dan waktu…

Ternyata, Mas Rovicky mengapresiasi ide monumen virtual itu karena menurut beliau monumen virtual akan memenuhi kebutuhan di masa mendatang, bukan hanya kebutuhan saat ini. Karena beberapa monumen  yang dibuat di masa lalu,  kadang hanya tinggal menjadi sebuah bagian sejarah,  sedangkan pesan utamanya terlupakan. Sedangkan pertimbangan saya, monumen virtual akan lebih abadi, dibaca oleh banyak orang pesannya, tersebar luas, bisa sebagai knowledge management sekaligus knowledge transfer.  Dari sisi biaya relatif tidak mahal, dan bisa mengikuti perkembangan teknologi, dan bisa jadi media sharing dengan ahli  lain yang berkompeten.

Saat ini, Mas Rovicky sudah memulai dengan Dongeng Geologi-nya, apakah akan diikuti oleh geologist yang lain? Tidak mudah memang, dan sangat mungkin untuk dilakukan, membuat Monumen “Virtual” Gempa yang mungkin kita butuhkan. [kom1009]

Persiapan untuk Wawancara

August 26, 2009 at 10:52 pm | In Tarian Jemari | 4 Comments
Tags: , , , , , ,

Persiapan untuk Wawancara

Saya beberarapa kali ditanya oleh teman mengenai persiapan wawancara kerja. Meskipun dulu saya relatif sering menjalani wawancara kerja, namun sebagian besar saya peroleh ketika saya mempunyai pengalaman kerja, karena di awal-awal karier saya, saya bekerja dengan dosen saya yang tidak memerlukan wawancara.

Beberapa hal yang  dulu saya lakukan dalam persiapan wawancara a.l:
- membuat catatan kecil mengenai kemampuan-kemampuan yang saya miliki sehingga perusahaan layak untuk mempekerjakan saya
- membawa beberapa salinan CV dan contoh-contoh pekerjaan yang pernah saya kerjakan
- menggunakan pakaian yang rapi dan sopan
- datang sebelum waktu interview yang ditentukan. Biasanya saya menggunakan ojek atau taxi agar bisa datang tepat waktu.
- berjabat tangan dengan semua pewawancara dan menunggu untuk dipersilahkan duduk.
- dst….

interview-cartoon

Kartun Interview [Sumber: Reality SEO ]

Ternyata, apa yang selama  ini saya lakukan untuk mempersiapkan wawancara kerja sesuai dengan teori. Menurut Barbara Patcher, dalam bukunya New Rules @ Works, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk bersiap-siap menghadapi wawancara kerja. Hal-hal itu adalah sebagai berikut:

1. Latihan. Berlatihlah memainkan peran wawancara dengan seorang teman atau kolega. Antisipasilah pertanyaan sulit dan putuskan bagaimana menjawabnya. Latihan mengenai cara menjawab pertanyaan wawancara bermanfaat untuk membangun rasa percaya diri.

Continue reading Persiapan untuk Wawancara…

Hari Pertama Afa Masuk TK Budi Mulia Dua Pandean Sari

August 16, 2009 at 11:41 pm | In Acara Keluarga, Tarian Jemari | 3 Comments
Tags: , , , , , , , , ,

Hari Pertama Afa Masuk TK Budi Mulia Dua

“Anak adalah personifikasi kehendak yang belum berpijak.
Orangtuanyalah yang dititipi tugas untuk memijakkan kehendak anak,
ke bumi kesadaran Illahi, ke bumi hati nurani dan ke bumi tanggungjawab sosial.”

Senin, 13 Juli 2009. Akhirnya hari yang kami nantikan tiba, hari pertama Afa masuk sekolah di TK Budi Mulia Dua Pandean Sari. Ya, setelah melalui seleksi dan diskusi yang panjang, akhirnya kami memutuskan untuk memasukkan Afa di TK Budi Mulia Dua Pandean Sari setelah dia menyelesaikan playgroupsnya di Budi Mulia Dua Blimbing Sari.

Di hari pertama masuk sekolah ini, yang merupakan hari istimewa, kami sengaja menyempatkan diri untuk mengantar Afa sekolah, saya mengambil cuti tahunan dan Ibunya Afa bolos kuliah di FK UGM.

100_4895Nampang Dulu

Jam tujuh pagi, saya sudah menyuruh Afa untuk mandi, saya juga sempat mengambil gambarnya, sayang dilarang Afa untuk di upload di sini, malu katanya. Setelah mandi dan memakai seragam sekolah, Afa nampang dulu di depan rumah, dengan seragam sekolah dan bergaya ala bolang, serial TV kesukaan dia.

Continue reading Hari Pertama Afa Masuk TK Budi Mulia Dua Pandean Sari…

Biaya pendidikan anak

August 11, 2009 at 4:06 pm | In Tarian Jemari | 1 Comment
Tags: , , , , ,

Biaya pendidikan anak

“Professionals and the institutions in which they work tend to define an activity,
in this case learning, as a commodity (education),
‘whose production they monopolize, whose distribution they restrict,
and whose price they raise beyond the purse of ordinary people and nowadays,
all governments’ (Lister in Illich 1976: 8).”

Beberapa waktu yang lalu, saya berdiskusi dengan Mas Rovicky tentang biaya pendidikan anak di milis kampung-UGM . Mas Rovicky menanyakan kepadaku sbb: “Mo kalau memang konsen dengan pendidikan anak, berapa persen dari pendapatanmu kau keluarkan untuk pendidikan anak-anak ? Masih inget tulisan dibawah ini ? http://rovicky.wordpress.com/2007/07/14/kok-pelit/

Saya pun kemudian menjawab sebagai berikut.

Kalau untuk biaya pendidikan anak yang dikeluarkan sekarang, rasanya tidak terlalu besar, karena anakku masih satu dan TK yang biayanya tidak terlalu mahal.  Saat ini pengeluaran rutin untuk spp hanya sekitar 225K, uang masuk sekitar 3jt-an [dan masih bisa dicicil 3 xlagi]. Kebutuhan yang lain, masuk alokasi budget RT, seperti beli buku bacaan di gramed 1 X tiap bulan [sekitar 300-400K habisnya], bensin untuk nganter sekolah dsb2.

100_5007Suasana Kelas

Yang mungkin relatif besar alokasinya adalah biaya pendidikan di masa yang akan datang. Ada tiga skema yang saya persiapkan, eh kami persiapkan untuk biaya pendidikan mbesok-mbesoknya a.l:

1. Saving plan, ini aslinya program company tempat saya bekerja. Skemanya, saya dipotong gaji pokok saya 10% dan company menambahkan 6%, dan company kemudian menaruh uang itu dalam bentuk tabungan dollar.

2. Asuransi pendidikan, kebetulan dulu pas Afa umur 6 bulan bikin di takaful, preminya sekitar 1,2% perbulan dari salary ku [sekarang].

3. Tabungan pendidikan, kemarin pas ulang tahun Afa yang ke-4, saya bikinkan dia tabungan pendidikan di Axa, preminya sekitar 2,5 % dari salary ku [sekarang]. Total dari ketiganya, saya mengalokasikan sekitar 13,7% dari pendapatan saya untuk biaya pendidikan anak saya dan company nambahi 6% [ini salah satu yang bikin istri saya seneng aku kerja di company sekarang].

Point ke 2 dan 3 akan bertambah saat Afa punya adik. Mungkin prosentasenya ketiganya relatif lebih kecil dari prosentase alokasi APBN untuk pendidikan.

Continue reading Biaya pendidikan anak…

Pulung: Menyemai Asa di sebidang Sawah

August 4, 2009 at 8:30 pm | In Tarian Jemari | 10 Comments
Tags: , , , ,

Pulung: Menyemai Asa di sebidang Sawah

3 Juli 2009, sehabis maghrib, saya sedang chating dengan Afa dan Ibunya. Tengah asik-asiknya chating, tiba-tiba ada telpon masuk ke hp-ku, dari nomer Ibunya Afa. Lha lagi chating kok telpon, ada apa? Kemudian telpon saya angkat. Ternyata yang telpon Eyang Kakungnya Afa. Beliau memberi tahu kalau ada orang menawari tanah, tidak berapa jauh dari rumah, luasnya Y ribuan meter, harga penawaran xxx  ribu / meter.

Wah kebetulan fikirku, soalnya sejak tahu lalu kami sudah berencana untuk membeli sebidang tanah untuk persiapan masa depan kami. Rencananya kami membeli di daerah yang dekat kampus, dengan alokasi budget sekitar YYY-YYZ  jt. Eyangnya Afa, juga menambahkan info, kalau harganya masih bisa ditawar, dan pemiliknya hanya butuh cepat uang XYZ  jt, sisanya bisa dilunasi nanti.

Saya kemudian meminta Eyangnya Afa untuk menegokan harga, dan apalagi kalau menurut beliau lokasi dan harganya baik. Beliau juga akan mencarikan tambahan uang untuk menutupi uang muka XYZ  jt, karena tabungan kami tidak mencukupi, dan proses peminjaman ke bank membutuhkan waktu.

sawahkuLokasi Sawah

Minggu, 5 Juli 2009, sepulang dari mengajar di Wonosobo, Eyangnya Afa menemui pemilik tanah untuk menegosiasi harga. Pemilik tanah menurunkan harga penawaran menjadi xxy ribu/ meter dan Eyangnya Afa menawar xyy ribu/ meter. Malamnya saya menelpon Eyangnya Afa dan mengetahui hasil negosiasi ini, dan mendiskusikan skema pembayaran. Eyangnya Afa berjanji besok akan menemui pemilik tanah dan menegosiasikan harga. Keesokan harinya, Eyangnya Afa menemui lagi pemilik tanah, dan akhirnya terjadi kesepakatan harga, xyz  ribu / meter, dengan syarat kami yang harus membayar pajak penjualan dan pajak pembelian sesuai dengan NJOP, biaya balik nama  dan notaris. Eyangnya Afa kemudian menelpon saya dan memberitahu hasil negosiasinya, dan saya pun mengiyakan untuk membelinya

Continue reading Pulung: Menyemai Asa di sebidang Sawah…

Munas Kampung-UGM di Sate Samirono

July 22, 2009 at 5:26 pm | In Kuliner, Tarian Jemari | 2 Comments
Tags: , , , ,

Munas Kampung-UGM di Sate Samirono

Sate Samirono, Jln Colombo 105/ 38, Samirono, Caturtunggal, telpon 0274 541288/ 541287

Kamis 16 Juli 2009, saya mengundang teman-teman milis kampung-UGM untuk melakukan gathering di sate Samirono, Jln Colombo. Kampung-UGm adalah komunitas alumni UGM yang tergabung dalam milis kampung-UGM@yahoogroups.com, dan merupakan salah satu milis alumni UGM yang paling aktif anggotanya. Kebetulan saya menjadi salah satu moderator milis itu, dan sudah menjadi kebiasaan untuk mengadakan kumpul-kumpul dengan anggotanya.

Daftar MenuDaftar Menu

Pemilihan lokasi Sate Samirono karena beberapa hal, antara lain lokasinya yang di dekat kampus UGM sehingga aksesnya mudah buat kami, dan tentu saja karena cita rasa sate samirono yang sudah melegenda. Menurut beberapa teman, sate kambing samirono merupakan sate terenak di Jogja.

Continue reading Munas Kampung-UGM di Sate Samirono…

Pagilaran: Menemani Ibunya Afa Pengabdian Masyarakat

May 25, 2009 at 1:08 pm | In Acara Keluarga, Tarian Jemari | Leave a Comment
Tags: , , , , ,

Pagilaran: Menemani Ibunya Afa Pengabdian Masyarakat

Jum’at 22 Mei 2009, saya, Afa, ibunya Afa dan Eyangnya Afa berangkat ke Pagilaran. Ibunya Afa akan berpartisipasi sebagai dokter umum di pengobatan masal dalam rangka ulang tahun PT Pagilaran. PT Pagilaran adalan salah satu perkebunan teh di Batang, yang beralamat di Pagilaran, Kec. Blado, Kab. Batang Telp. (0285) 414030.

Kami berangkat dari rumah jam 8 malam, menggunakan jazz. Eyangnya Afa yang nyopir, sekalian beliau nanti akan mengajar di Tegal. Berbekal atlas, saya menavigatori Eyangnya Afa. Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya sampai di perumahan Pagilaran jam 12.30 malam. Eyangnya Afa kemudian tidur di mobil, sementara Saya,  Afa dan Ibunya tidur di kamar dengan 3 tempat tidur.

100_4219 (Medium)
Jalan-jalan Pagi

Keeseokan harinya, jam 8 pagi Ibunya Afa sudah mulai bergabung dengan teman-temannya di balai pengobatan. Sementara saya dan Afa jalan-jalan. Saya mengajak jalan-jalan ke lokasi outbond dan kebun teh. Saya memfoto-foto Afa, untuk dokumentasi biar keren. Menikmati hawa pegunungan yang sejuk, membuat kami semangat untuk menikmati pemandangan.

Continue reading Pagilaran: Menemani Ibunya Afa Pengabdian Masyarakat…

Munas kampung-UGM di Pondok Sunda Senayan City

May 11, 2009 at 8:36 pm | In Kuliner, Tarian Jemari | Leave a Comment
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Munas kampung-UGM di Pondok Sunda Senayan City

Pondok Sunda Senayan City LG. 78, Jl. Asia Afrika Lot 19, Jakarta SelatanTelp: 021-72781388

Selasa, 5 Mei 2009, saya bertemu dengan Mas Rovicky di lantai bawah JCC. Mas Rovicky merupakan kakak kelas saya di geologi dan mentor “virtual” di milis kampung-UGM. Saat itu saya baru selesai mengecek poster yang dipamerkan pada saat IPA conference yang ke-33, sedangkan Mas Rovicky sedang mengobrol dengan Mas Iswani dan Mas Henry Banjarnahor. Mas Rovicky kemudian menyuruh saya untuk mengadakan gathering milis kampung-UGM, lokasinya di Senayan City, waktunya Rabu malam. Saya kemudian minta tolong Intan untuk membuat undangan di milis kampung-UGM.

Rabu, 6 Mei 2009, saya, Afa dan Ibunya berangkat dari hotel Mulia jam 19.00. Awalnya saya tidak akan mengajak Afa karena dia kelihatan capek setelah seharian main-main ke Sea World dan Gelanggang Samudera, namun dia minta ikut dan ndak mau ditinggal di hotel dengan Ibunya. Kami kemudian naik taxi di depan hotel Mulia. Anung sudah sampai duluan, dan menunggu di lower ground Senayan City, Mas Rovicky juga sudah sampai, saya kemudian menginfokan posisi Anung ke Mas Rovicky.

Jam 19.30 kami bertiga sampai di Senayan City, perlu waktu 30-an menit untuk menempuh jarak Mulia-Senayan City yang hanya sekitar 1 km-an [termasuk nunggu taxi], padahal kalau sendirian jalan kaki cuma perlu waktu sekitar 15 menit. Anung dan Mas Rovicky sudah menunggu, dan kamipun kemudian mencari tempat untuk makan malam dan mengobrol.

Saya dan Mas Rovicky tidak mengetahui tempat makan yang enak [makanan dan suasananya], sehingga keputusan di serahkan ke Anung. Anung kemudian mengajak kami ke Pondok Sunda di LG. 78. Begitu masuk, kami langsung diminta untuk memilih lauk. Ada bermam-macam lauk dan sambal khas rumah makan Sunda yang disediakan rumah makan ini. Setelah memilih lauk untuk makan malam kami, kami kemudian mengambil tempat duduk di bagian belakang, yang rencanananya dipesan untuk 6 orang. Sambil menunggu pesanan makanan kami datang, kami berdiskusi ngalor ngidul. Salah satunya, Mas Rovicky menyarankan posisi kontrak ataupun permanen, yang paling penting adalah besarnya penghasilan pertahunnya kalau mau pindah pekerjaan. [Menurutku ini cocok untuk Mas Rovicky yang mempunyai reputasi yang sangat baik dan jaringan yang luas, sementara saya masih membangun reputasi itu]

Tidak berapa lama kemudian, pesanan makanan kami sudah tiba. Anung dan Mas Rovicky memilih lauk a.l tahu isi, empal, tempe bacem, ayam bakar dan mendoan. Sedangkan saya dan Ibunya Afa memesan ikan asin, tahu goreng, mendoan, ayam bakar usus goreng dan sate udang. Afa tidak kalah memesan sop buntut.

LaukLauk Anung dan Mas Rovicky

Continue reading Munas kampung-UGM di Pondok Sunda Senayan City…

RM Muara Kapuas : Ketika Sungai dan Laut Bertemu

January 14, 2009 at 3:50 pm | In Kuliner, Tarian Jemari | 1 Comment
Tags: , , , , , , , , , , , , ,

RM Muara Kapuas : Ketika Sungai dan Laut Bertemu

RM Muara Kapuas, jl.Kapten Haryadi , Ngentak, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman,
telp 0274 7894622 / 0816 4228 689

Sabtu 3 Januari 2009, saya berkesempatan makan siang di RM Kapuas, sekaligus silaturahmi informal dengan penerima beasiswa KaGeoGama CPI dan dosen TGL UGM. Silaturahmi ini dihadiri oleh 8 orang mahasiswa/ i penerima beasiswa, 3 orang dosen + keluarga dan 2 orang alumni + keluarga, saya salah satu yang mewakili alumni KaGeoGama CPI.

Acara di mulai pukul setengah 12, mundur setengah jam jadual karena tempat yang dibooking masih dipakai orang lain. Mas Udin membuka acara sekaligus jadi moderator. Pada saat membuka, beliau berkata, acara ini sebagai ungkapan syukur dari Kakak-kakak alumni yang sudah berhasil menyelengarakan program beasiswa buat adik-adik yang masih kuliah dan sekaligus bersilaturahmi secara langsung.

Mas Gus Hend, kemudian dipersilahkan untuk memberikan sambutan dan wejangan kepada adik-adik penerima beasiswa. Mas Gus Hend memberitahu kepada adik-adik mahasiswa, kalau program beasiswa KaGeoGama CPI sudah lama direncanakan, dan baru terlaksana setelah satu tahun kemudian.

Acara kemudian dilanjutkan dengan makan siang, salah satu menu makan siangnya ingkung [ingkung kok ayam sayur :D . Menu lainnya nila goreng, gurame bakar asam manis, wader goreng, sambel2, cha kangkung dsb … pokoknya glek-glek nyaem2.

Nila GorengNila Goreng

Continue reading RM Muara Kapuas : Ketika Sungai dan Laut Bertemu…

Anak-anak dan Kesadaran Identitas

November 24, 2008 at 4:48 pm | In Tarian Jemari | Leave a Comment

Anak-anak dan Kesadaran Identitas

Anak saya, Afa, nama lengkapnya Muhammad Natsir Fachruddin Suryatama. Ketika dia sudah bisa menghapal namanya, kami sering nggodain dia, kalau namanya Suryotomo seperti orang Jawa membaca Suryatama, namun dia selalu membantah dan menyebut nama dia Suryatama. Awalnya, kami kira karena dia belum tahu cara membaca “a” nglegena dalam tata bahasa Jawa, seperti ngayogyakarta yang dibaca ngayogyokarto.
Namun, peristiwa beberapa hari lalu, menggugah pikiranku tentang anak saya dan kesadaran identitas yang dia miliki. Ibunya Afa, membelikan dia kaos Valentino Rossi dan Kimi Raikonen, namun sekarang keduanya tidak pernah diapaki lagi, disimpan di lemari mainan dia. Ketika saya tanya kenapa ndak mau pakai lagi, dia menjawab nanti semua orang memanggil Dede’ Rossi, Dede’ tidak mau dipanggil Rossi. Setelah diusut-usut, ternyata ketika dia memakai kaos Rossi, ada yang memanggil dia Rossi, dan mungkin itu membuat dia tidak nyaman diidentifikasi sebagai Rossi, karena dia mempunyai kesadaran identitas sebagai dirinya sendiri, Dede’ Afa.

Dalam usianya, yang baru 3,5 tahun, ternyata anak saya sudah mempunyai kesadaran identitas terhadap dirinya sendiri. Bagaimana dengan anak-anak Anda?

Next Page »

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.