Apakah sekarang saat tepat untuk beralih dari reksadana saham?

August 17, 2011 at 12:23 pm | Posted in TOMoGrafi | 26 Comments

Apakah sekarang saat tepat untuk beralih dari reksadana saham?

Senin minggu lalu, tiba-tiba ada pesan di communicator kantor, pengirimnya Eko Rahmat, yang isinya minta tolong untuk mengambilkan form manulife untuk mengubah fortofolio dplknya dari 100 % saham menjadi penghasilan tetap atau dana rupiah.

Sayapun kemudian mencarikan softcopy dan mengirimkannya ke Antok, kebetulan dia lagi di lapangan, maklum DSM (drilling site manager). Kami kemudian berbincang-bincang sejenak mengenai alasan memindahkan dana pensiunnya. Salah dua alasannya adalah kondisi keuangan Amerika dan Eropa yang kurang bagus (?) dan harga2 saham yang kemungkinan akan terkoreksi untuk jangka yang agak lama.

Sepemahaman saya yang kurang mengerti ekonomi, kondisi pasaar global memang agak kurang bagus dan mungkin berpengaruh terhadap pasar lokal yang dikuasai oleh uang panas dari luar. Saya pun kemudian berpikir untuk mengikuti langkah Antok, mendinginkan dplk ke dana rupiah, sambil melihat-lihat kondisi ekonomi global.

Sebagai informasi, dplk ini merupakan salah satu instrumen pensium di samping lumpsum pensiun dan Jamsostek JHT, yang dananya berasal dari pegawai dan pemberi kerja. Karena porsi pegawai relatif kecil, 1,2 % dibanding dengan 4% pemberi kerja, maka saya cenderung untuk mengambil resiko di manulife saham. Namun berkaca dari tahun 2008 dimana dana terpangkas relatif besar (~17 jt-an), maka kali ini saya relatif hati2 dan mengikuti langka Antok.
Bagaimana dengan dana pensiun Anda?

About these ads

26 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Sy baca di mailist investasi jg begitu, mas
    Ada yg buka account di simphony BNI, diem aja ktnya
    Dia pilih reksadana saham..krn orientasinya 10-15 thn lg

    Regards
    Lestari

  2. Cara AS kan masih dilanjutkan cetak uang via transmisi Quantitative Easing Money, yg berputar menggoreng pasar portopolio global dibuat naik-turun bolak balik kayak goreng iwak, lalu untung yg diambil adalah arbitrase selisih kurs di pasar uang.. Jadi fluktuatif itu pasti, dan berarti ‘high risk high return’ .. Tergantung, kategori mana.. Risk Taker atau bukan.. Krn reksa dana adalah pooling fund, maka problemnya apakah reksa dana pilihannya itu market leader atau follower? Kl follower memang jika mrk salah posisi short selling kebanyakan dgn harapan iwak bakal dibalik lagi ke atas sama market leadernya, bisa gagal bayar/serah kl skenario leader si bandar berubah.. Itu berdampak ke yg megang

    • Mas Yanuar Rizky | kalau boleh tahu, apa saja yang termaksud market leader atau follower?
      Dan kalau boleh tahu, apa yang dimaksud dengan pooling fund?
      Terima kasih,

      • Pooling fund itu adalah fungsi dari manajer investasi di produk reksadana.. Mrk mengumpulkaan dana masyarakat, dan kemudian mrk kelola dgn penempatan yg disepakati dari produknya.. Kasarnya kalau pilih reksadana saham, maka mereka lah yg main saham atas dana para nasabahnya..

        Nah, di pasar itu kan ada yg menggerakkan arah pasar (leader, market maker, bandar).. Variannya ada juga yg Follower alias ngikutin arahnya si Bandar (bahasa kerennya mrk membaca pasar dan ambil posisi di pasar, tp pasar yg dibaca itu kan ada bandarnya.. Bacaan bisa benar dan tidak ke depannya kan tergantung si bandarnya)

        Jadi kl reksadana yg dipilih adalah bandarnya ya peluang kegagalan tidak ada, tp kl yg follower ya kalau salah tebak gagal serah/bayar dr posisi short nya (jual dulu, beli kemudian dan atau sebaliknya)
        ¤Yanuar Rizky¤
        mail to: rizky@elrizky.net
        transmitted by tukangPos
        on the net» http://www.elrizky.net/

  3. Pak Yanuar Rizky: Gimana cara mengidentifikasi bandar pak? :D

    • Mba Arie Rahayu, kalau itu sih perlu jam terbang :) .. Karena lebih banyak art dibanding science.. Kalau teorinya sih sederhana hubungan sebab akibat yang secara statistik dpt dikuantifikasi, tapi yg agak berat menentukan parameter kualitatif dari pola yang dinamis itu perlu insting dan memahami kepentingan dibalik perilaku (investigate) sehingga bisa follow the money dari #ArusUangPasar
      ¤Yanuar Rizky¤
      mail to: rizky@elrizky.net
      transmitted by tukangPos

  4. aku PNS mas, dadi dana pensiunku cuman dari taspen.. hehe.. tur aku dudu pakar ekonomi.. Dadi aku urun rembug yg umum aja yaaa… Terkait dengan dplk saham, menurutku itu strategi yang cukup agresive, karena sangat rentan terpapar risiko investasi yang tinggi akibat volatilitas harga saham. Sebelum kita melakukan investasi ada hal yang patut kita cermati, yaitu risiko investasi. Apakah risiko investasi kita sudah sesuai dgn kemampuan kita menanggung risiko? kalo pilihan investasi tidak sesuai dgn preferensi kita terhadap risiko, yg ada bisa deg-degan melulu.. hehe.. Nah, kita perlu mengenali terlebih dahulu, kita masuk kategori yg mana..
    Scr umum ada 3 profil risiko:
    1) Konservatif. Investor dgn profil risiko spt ini cenderung menginginkan kestabilan dan kebpastian dlm investasinya. mereka cenderung mengutamakan pokok investasi (safety) daripada hasil investasi (return). Konsekuensinya ya harus mau menerima return yg relatif rendah. Pilihan investasi, utk investor yang konservatif misalnya adl pasar uang, karena portofolionya adl instrumen yang aman dan jangka waktu kurang dr 1 thn spt: deposito, SBI,SPN, dan efek lain yg bersifat hutang yg jatuh temponya kurang dr 1 thn.
    2. Moderat. Investor ini menghindari kerugian dlm jangka pendek dan membidik keuntungan dlm jangka panjang. Investasi yg cocok adl jenis fied income securities (surat berharga dgn penghasilan tetap), spt SUN, ORI, Sukuk dan obligasi yang diterbit oleh BUMN.
    3. Agresive. Jenis investor ini punya kecenderungan lebih mementingkan return investasi daripada keselamatan pokok invetasinya. jenis investor ini harus menyadari bhw mereka akan terpapar risiko investasi yg besar dan bisa kehilangan pokok investasinya berkurang. Rata-rata mereka membidik portofolio yang memiliki kinerja diatas kinerja pasar. Contoh investasi utk investor jenis ini ya investas pada reksadana saham..
    Pada kasus teman mas Komo diatas, aku melihat dia berusaha untuk mengurangi risiko dgn menggeser dirinya dari profil risiko no 3 ke profil risiko no 1.

  5. menyambung komen-ku di atas.. Sebenarnya pilihan kita atas investasi dplk bergantung pula pada tujuan investasi dan jangka waktu investasinya. Misal, kita mau pensiun kurang dari 5 tahun atau periode investasinya kurang dari itu, ya sebaiknya tidak investasi pada reksadana saham.. krn investasi saham dlm jangka pendek rentan dgn risiko akibat volatilitas harga saham yg bisa berdampak pada berkurangnya return kita dan pokok investasi kita. Investasi pd saham, jika sahamnya memiliki fundamental yg cukup bagus biasanya akan kembali membaik (grafiknya meningkat kembali setelah turun), tapi memang sisi psikologis kita akan dibuat kalang kabut ketika mencermati saham kita harganya bergerak ke bawah. jika kita terburu-buru utk menjual, yg ada malah kita mendapatkan capital loss.. kalo kita mampu menahan diri, utk menunggu setelah terjadi penurunan, saham2 itu akan kembali naik (yg harapanannya leih baik dari posisi semula).
    Kalo aku sbg investor kecil-kecilan di produk saham, lebih suka dgn strategi pasif (abiss males mantengin pergerakan saham melulu..hehe). Jadi dari awal aku bidik saham yg relatif bagus fundamentalnya dan BUMN (pilihan saham ini tergantung preferensi kita sih..) Lalu aku biarkan saja, jadi nggak deg-degan dgn fluktuasi harganya, yg penting dlm jangka panjang punya trend meningkat.. Dan kalo pasar lagi lesu sebenarnya saat yg tepat utk beli, krn lagi ada diskon.. sayangnya gak ada amunisi… hehe…

  6. ijin nyimak
    Mo tanya: gimana caranya beli saham bumn itu mbak?

    • mbak Ulfia Mutiara– dalam hal ini tentunya yg dimaksud saham BUMN yg listed di BEI ya mbak.. Banyak perusahaan sekuritas yang mengakomodasi kepentingan investor individual kayak kita.. tinggal buka account di sana aja, dgn deposit awal sekitar 10-25 juta (tergantung aturan perush sekuritasnya) utk biaya pembelian saham awal. Pemilihan saham bisa dikonsultasikan atau kalo cukup pede ya milih sendiri. kalau yg aku pakai, aku menginstall aplikasi yg diberi oleh perusahaan sekuritas dan connect dg internet utk melihat pergerakan harga saham yg dimiliki..

      • weh lumayan gede y…yowis saya tak deposit di reksadana dl…nti klo udah mampu bru pindah jalur…thx untuk pencerahannya mbak

  7. jgn di tarik dr bursa smuwa dunk, ntar bandare ndak punya uang lagi. Bakal susah goreng2 tu …

  8. Mas Yanuar Rizky dan mBak Denies Priantinah Senopranoto | terima kasih atas pencerahannya.
    Kiai mBin Iwang Bintoro | mohon pencerahannya tentang kondisi bursa saham Indonesia saat ini dan forecastnya dalam 1-2 tahun mendatang.

  9. tertarik juga mengomentari tulisan ini, saya cukup lama juga di industri keuangan ada sekitar 5 tahun saya geluti…ada beberapa hal menarik yang saya pelajari mengenai investasi. Pertama: Investasi tetap terikat pada hukum Life Cycle dimana setelah masa2 tumbuh akan ada masa2 penurunan untuk mencapai equilibrium atau titik pijakan baru. Kedua:cara paling aman untuk berinvestasi adalah melakukan manajemen risiko yang tepat dengan cara diversifikasi dan melakukannya secara rutin. Ketiga: Proteksi Investasi anda! So apapun yang terjadi anda tidak akan kehilangan uang anda.

  10. wah menarik ini, berhubung saya juga lagi belajar reksadana…jadi yang saya pelajari itu, kalau investasi kita lebih dari 5 tahun, lebih baik ambil reksadana saham. toh di produk reksadana bisa ada pilihan itu dana kita akan diberikan ke saham perusahaan apa istilahnya prospektus…ada juga reksadana saham yang syariah yang sistemnya bagi hasil. nah, saya cenderung melihat reksadana tersebut ke saham perusahaan mana? kalo kata temen saya, kalo kamu gak mau ada perusahaan pengemplang pajak ya udah gak usah ambil produk itu…hahaha…

  11. aku juga pengin belajar reksadana, biar ngak kuper

  12. Anda juga bisa membuat reksadana ala anda sendiri kok sebenarnya…cuma perlu pengetahuan dan niat untuk mempelajari saham2 yang layak anda koleksi

  13. Buat mas Sulastama Raharja, rekan2 semua dan mungkin juga ada rekan2 Kagama muda disini yang pernah ikut sesi saya ttg financial planning, just to inform saya sudah meninggalkan investasi di sektor keuangan, berhenti menulis kolom keuangan di semua majalah dan tabloid. Saat ini saya mananam sengon di kampung bagi hasil separo2 dengan penggarap yang butuh pekerjaan, mendukung pendanaan dan penggalangan dana lembaga kemanusiaan untuk UKM dan merintis “reksadana” dengan portofolio sektor riil asli (bukan jual beli kepemilikan usaha yang dananya tidak lagi menyentuh sektor riil setelah IPO), bentuk rill yang sudah berjalan diantaranya peternakan kambing, pertanian sayuran dan buah, pengolahan hasil bumi menjadi makanan jadi dengan bagi hasil yang diantaranya disalurkan juga lewat baitul mal masjid. Saat saya diundang bicara di seminar usaha untuk UKM oleh kelompok Kompas-Gramedia di Senayan 2 tahun lalu, saya sedih saat orang2 yang mau berusaha itu sulit sekali cari modal Rp 5-10 juta, bahkan sampai ada yang menangis di hadapan saya setelah sesi, sementara saya ingat pemilik uang sekarang umumnya lebih senang menggunakan uangnya untuk investasi di pasar sekunder yang tidak lagi bersentuhan dengan sektor riil. Kalaupun saya rugi di investasi yang sekarang saya berpikir setidaknya saya sudah bantu orang supaya bisa bekerja dan berusaha di jaman yang sulit pekerjaan dan modal seperti sekarang ini. Kenyataannya karena mereka juga orang2 yang ulet mencari nafkah dan saya lakukan feasibility study dari aspek bisnis termasuk sdm dan pemasaran, sampai saat ini investasi usaha di sektor rill yang saya lakukan tidak merugi…ini just share ya, tidak bermaksud membuat kontroversi beda pendapat mengenai investasi. It is only my choice of investment, which may not suitable for you…

    • Saya tertarik ikutan mas Godo Tj. Dimana lahannya? apa disekitar Yogya. Saya lebih suka yang riil2 begitu. Memiliki multi efek.

      • ‎..dan yg riil ini, trutama bisnis makanan, return-nya lebih cepat drpd misal saham..*kecuali klo berani maen saham minimal 1 M..

      • Saya sejak kecil sudah terbiasa di bisnis makanan, ibu saya mulai jualan es mambo, donut sampai pizza maupun katering. Sekarang juga adik masih buka resto. Ibaratnya, badan saya ini dibentuk oleh sisa2 katering yang berjibun.
        Saya pengin nyoba yang lain, sebenarnya mungkin lebih beresiko. Atau kalau di bisnis makanan, pengin yang makanan setengah jadi skala industri kecil menengah. Ada ide?

    • Mas Godo, TOP.. Emang itu lebih riil.. Dimana Mas, berapaan placement nya, pengen lah ikutan yg punya multiplier ke riil seperti ini.. Tetap semangat Mas.. Mantap!
      ¤Yanuar Rizky¤
      mail to: rizky@elrizky.net
      transmitted by tukangPos
      on the net» http://www.elrizky.net/

      • ‎..teman2 LIPI subang ada yg membuat usaha minuman ringan spt teh sisri n nata de coco, awalnya susah masarinnya, skrng sudah lumayan, sampe bikin pabrik.

      • Mba Ellen, TOP, aku lebih suka kalau Kagama tidak keluarkan Reksadana portpolio (kan ada ya produk ini hehehe).. Harusnya, Kagama ayo dong ke jati diri UGM, menanamkan kembali akar ekonomi kerakyatan .. Mantap!

        *Suara dari alumni UGM yang bukan aktivis dan penggurus Kagama :)
        ¤Yanuar Rizky¤
        mail to: rizky@elrizky.net
        transmitted by tukangPos
        on the net» http://www.elrizky.net/

    • Mas Godo Yth. Salut atas concern anda…memang benar seperti yang anda
      ungkapkan tadi. Harus ada yang bergerak di sektor riil…pada dasarnya
      investor di sektor keuangan adalah orang bingung kok ya kan? Bingung
      menempatkan uangnya dan selalu kuatir merugi…berbondong bondong
      menempatkan uangnya di pasar potensial yang growthnya bagus dan kalau
      pasarnya mulai jenuh…cabut rame rame sehingga harga2 berjatuhan.
      Sebenarnya kalau kita sadar…yang namanya pasar sekunder itu ya…sekunder! Penggerak ekonomi adalah sektor yang riil…sektor keuangan akan rontok
      tanpa sektor riil yang bagus growthnya. Krisis keuangan sebenar benarnya
      adalah bila perusahaan2 tidak bisa perform dan merugi…banyak phk dan pengangguran serta daya beli yang menurun. Nah bila krisis keuangan hanya terjadi di pasar saham dengan indikasi rontoknya index…menurut saya itu
      hanya krisis yang semu. Bagaimanapun segala bentuk instrumen keuangan adalah hanya menampung kelebihan dana masyarakat saja. Growth di pasar sekunder seharusnya berimbang dengan growth di sektor riil. Kalau growth di sektor
      riil lebih rendah…maka cepat atau lambat sistem akan crash karena
      overvalue dan investor sudah menganggapnya terlalu berisiko. Growth yang
      terlalu tinggi pun berbahaya karena pasar akan terlalu cepat jenuh. Namun daripada itu memang seharusnya Indonesia harus lebih banyak memiliki wirausahawan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat dan
      memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

  14. saya juga sudah mulai menanam sengon tapi masih jadi “tambahan” atas jati dan mahoni. Skalanya masih super mikro, buat sendiri, itung2 tabungan. Ada beberapa project pengin saya kerjakan mungkin bisa dapat masukan:

    1. Atsiri (melati, mawar, dll)
    2. Sengon

    Apakah bisa ditumpangsarikan? Pengin target 200Ha sebagai awal, tapi sementara pegang baru 10%nya (20Ha) hehehehe… kere pancen.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: